Dasar Laut Terangkat hingga 2 Meter, Gempa Dahsyat M7,8 Ubah Peta Pesisir Filipina
Fenomena yang dikenal sebagai "pengangkatan pantai" (coastal uplift) pertama kali dilaporkan warga setempat 2 hari setelah gempa terjadi. Warga awalnya khawatir karena mencium bau menyengat dari wilayah pesisir yang berubah secara drastis.
Setelah dilakukan pemeriksaan, bau tersebut diketahui berasal dari biota laut yang mati akibat terpapar udara terbuka. Terumbu karang, padang lamun, serta berbagai organisme laut yang sebelumnya hidup di bawah air mendadak berada di permukaan setelah dasar laut terangkat.
Departemen Lingkungan Filipina mengungkapkan, kondisi tersebut mengancam kelangsungan ekosistem pesisir. Foto-foto yang dirilis lembaga itu menunjukkan hamparan terumbu karang yang menyembul dari laut disertai bangkai ikan dan organisme laut lainnya.
"Terumbu karang dan padang lamun yang terpapar ini mulai mati bersama organisme penghuninya seperti ikan karang, belut, kerang, dan cangkang," demikian pernyataan Departemen Lingkungan Filipina.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Filipina (NDRRMC) melaporkan hingga Selasa (16/6/2026), jumlah korban tewas akibat gempa mencapai 68 orang, sementara 33 lainnya masih hilang. Sebanyak 1.339 orang mengalami luka-luka.
Gempa tersebut juga berdampak pada sekitar 338.000 kepala keluarga atau sekitar 1,38 juta penduduk di berbagai wilayah Mindanao. Selain memicu kerusakan luas, gempa juga menyebabkan tsunami setinggi hampir 1 meter yang menghantam sejumlah kawasan pesisir.
Editor: Anton Suhartono