Data Vaksin Rusia Masih Minim, WHO Minta Negara Hentikan Klaster Covid-19

Antara ยท Jumat, 14 Agustus 2020 - 08:48 WIB
Data Vaksin Rusia Masih Minim, WHO Minta Negara Hentikan Klaster Covid-19

Kepala Program Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Mike Ryan. (Foto: AFP)

JENEWA, iNews.id – Kepala Program Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Mike Ryan, menekankan pentingnya menghentikan klaster-klaster Covid-19 agar tak meluas jadi transmisi komunitas. Menurut dia, langkah itu menjadi kunci dalam memerangi wabah virus corona.

Dalam pengarahan rutin di Jenewa, Kamis (13/8/2020), dia menuturkan bahwa persentase penduduk dunia yang telah terinfeksi Covid-19 sebenarnya sangat kecil. Akan tetapi wabah itu bisa menjadi bencana besar jika terus dibiarkan menjadi transmisi komunitas.

Sementara, penasihat senior WHO Bruce Aylward mengatakan, informasi yang dimiliki WHO untuk mengevaluasi perluasan penggunaan vaksin Covid-19 baru buatan Rusia sangatlah minim. Sejauh ini, Rusia juga belum mengungkapkan secara perinci hasil uji coba vaksin tersebut secara transparan.

Pada Selasa (11/8/2020), Rusia menjadi negara pertama di dunia yang memberikan persetujuan penggunaan vaksin Covid-19 yang dinamai Sputnik V. Pemberian nama vaksin itu sebagai penghormatan atas peluncuran satelit pertama di dunia oleh Uni Soviet (negara yang dulu pernah dibangun Rusia bersama sejumlah negara komunis lainnya).

Klaim Rusia soal penemuan vaksin Covid-19 pertama di dunia itu mendapat respons dari Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Alex Azar. Dia mengatakan, dalam perkara vaksin, yang terpenting bukan siapa yang tercepat, melainkan soal keampuhan dan keamanan vaksin.

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn juga mengemukakan pesimismenya atas vaksin virus corona dari Rusia itu. Salah satu faktor yang memunculkan pesimisme itu adalah fakta bahwa ketika diuji klinis, efektivitas vaksin itu hanya 10 persen.

Meski demikian, beberapa negara antara lain Filipina telah menyatakan berminat dengan vaksin Rusia itu. Para pejabat medis Filipina dikatakan telah berkomunikasi dengan pejabat medis Rusia yang bertanggung jawab atas penemuan vaksin yang dikembangkan Gamaleya Institute itu.

Editor : Ahmad Islamy Jamil