Desak Gencatan Senjata di Suriah, Wapres AS Pence dan Pompeo Terbang ke Turki Hari Ini

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 16 Oktober 2019 - 10:59 WIB
Desak Gencatan Senjata di Suriah, Wapres AS Pence dan Pompeo Terbang ke Turki Hari Ini

Wakil Presiden AS Mike Pence (kanan) dan Menlu AS Mike Pompeo. (Foto: AP / Jose Luis Magana)

WASHINGTON, iNews.id - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo akan terbang ke Ankara, Rabu (16/10/2019). Mereka dikirim Presiden Donald Trump untuk menekan Turki menghentikan serangannya terhadap pejuang Kurdi Suriah.

"Mereka akan berangkat besok," kata Trump, kepada wartawan di Gedung Putih, pada Selasa malam waktu setempat.

"Kami menginginkan gencatan senjata. Kami memberikan sanksi terkuat yang dapat Anda bayangkan," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Rabu (16/10/2019).

Kantor Pence merilis pernyataan terpisah yang menambahkan bahwa dia akan menyuarakan komitmen AS untuk mencapai gencatan senjata. AS juga akan mendorong adanya solusi melalui negosiasi.

BACA JUGA: Desak Erdogan Hentikan Invasi ke Suriah, Trump Kirim Wapres Pence ke Turki

Pence akan bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Kamis (17/10/2019) besok.

Dia akan menegaskan kembali komitmen Trump untuk menjatuhkan sanksi ekonomi pada Turki hingga sebuah resolusi tercapai.

Keputusan tiba-tiba Trump untuk menarik pasukan AS dari timur laut Suriah, meninggalkan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi yang merupakan sekutu melawan ISIS, memicu serangan dari pasukan Turki.

Turki menganggap pasukan Kurdi adalah cabang teroris.

Kurdi menyatakan, ratusan kerabat dari kelompok ISIS yang dipenjara, melarikan diri sejak Turki melancarkan serangannya pekan lalu.

"Kekerasan yang sedang berlangsung di kawasan itu, sangat merusak kampanye (Kalahkan ISIS), membahayakan warga sipil dan minoritas agama, dan mengancam keamanan seluruh wilayah," demikian pernyataan kantor wakil presiden AS.

"Administrasi diputuskan untuk menjaga keamanan di wilayah itu, keselamatan warga sipil, dan penahanan berkelanjutan para pejuang ISIS."


Editor : Nathania Riris Michico