Diancam Trump, India Akhirnya Ekspor Obat Malaria untuk Pasien Corona

Anton Suhartono ยท Selasa, 07 April 2020 - 16:15 WIB
Diancam Trump, India Akhirnya Ekspor Obat Malaria untuk Pasien Corona

India akhirya mengekspor obat malaria hidroksiklorokuin untuk pasien virus corona setelah Donald Trump menyampaikan ancaman (Foto: AFP)

NEW DELHI, iNews.id - India akhirnya mencabut kebijakan larangan ekspor obat malaria hidroksiklorokuin untuk menangani pasien virus corona. Kebijakan itu dicabut setelah datang ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Perdana Menteri India Narendra Modi pada Sabtu pekan lalu mengumumkan larangan ekspor hidroksiklorokuin dengan alasan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.

Namun kebijakan itu dijawab dengan Trump bahwa India harus menanggung konsekuensinya.

“Jika dia tak membolehkan (obat) untuk diekspor, dia tak mengizinkan untuk keluar, tidak apa-apa. Tapi tentunya akan ada pembalasan, mengapa tidak,” kata Trump.

Laporan media mengungkap, India merupakan produsen dan pengekspor hidroksiklorokuin terbesar di dunia. Tak heran jika India menghentikan ekspor, maka persediaan di dunia bisa menipis.

Setelah muncul ancaman itu, Kementerian Luar Negeri India mengubah kebijakan pada Selasa (7/4/2020) dengan menyatakan mengizinkan ekspor obat dan parasetamol dalam jumlah terbatas.

“Dalam jumlah yang sesuai untuk semua negara tetangga yang bergantung pada kemampuan kami. Kami juga akan memasok obat-obatan penting ini ke beberapa negara yang sangat terpengaruh oleh pandemi," kata Juru Bicara Kemlu India, Anurag Srivastava, dikutip dari AFP.

Dia menambahkan, obat-obat tersebut akan dikategorikan berlisensi dan pendistribusiannya terus dipantau.

Trump sebelumnya memuji hidroksiklorokuin sebagai obat mujarab bagi penderita virus corona, meskipun banyak ilmuwan menyarankan agar dilakukan penelitian lagi untuk menguji keefektifan dan keamanannya.

Hidroksiklorokuin dan klorokuin telah digunakan selama puluhan tahun untuk mengobati penderita malaria, namun berpotensi memiliki efek samping serius, terutama jika diberikan dalam dosis tinggi atau diberikan bersamaan dengan obat lain.

Badan Kedokteran Eropa pekan lalu memperingatkan bahwa kedua obat tersebut tidak boleh digunakan untuk mengobati pasien Covid-19, kecuali untuk uji klinis atau jika suatu negara sudah memberlakukan darurat nasional.

Editor : Anton Suhartono