Dievakuasi dari Wuhan, Ratusan Warga Australia Dikarantina di Christmas Island

Nathania Riris Michico ยท Senin, 03 Februari 2020 - 13:23 WIB
Dievakuasi dari Wuhan, Ratusan Warga Australia Dikarantina di Christmas Island

Qantas tidak akan lagi mengangkut penumpang asal China untuk masuk ke Australia. (FOTO: ABC News/Natasha Johnson)

SYDNEY, iNews.id - Hampir 300 warga Australia yang sebelumya berada di Kota Wuhan, China, tempat di mana wabah virus corona merebak dievakuasi dan diterbangkan ke Christmas Island untuk dikarantina di sana.

Pesawat jumbo Qantas 747 membawa mereka akan tiba di Exmouth (Australia Barat) pada Senin (3/2/2020) siang. Pesawat itu merupakan pesawat pertama yang membawa warga Australia ke luar dari Wuhan yang kini sudah ditutup tersebut.

Pesawat itu mendarat di Wuhan pukul 01.10 dini hari, yang terbang lewat Hong Kong, dan segera terbang lagi satu jam kemudian namun sempat tertunda.

CEO Maskapai Qantas Alan Joyce mengatakan, pesawat itu akan mengangkut 270 warga dari Wuhan, yang disertai 14 kru pesawat, 4 pilot, dan pejabat dari Departemen Kesehatan Australia.

"Pesawat itu sekarang sedang berada di Wuhan," kata Joyce, kepada ABC News pada Senin pagi.

"Bagasi penumpang sudah masuk, pesawat sudah diisi bahan bakar dan penumpang sebentar lagi akan naik jadi mudah-mudahan pesawat akan berangkat dalam beberapa jam mendatang."

Beberapa warga Australia di Wuhan sebelumnya menolak dievakuasi dan lebih memilih tinggal di sana, sementara yang lain khawatir mereka akan dikarantina setibanya di Australia.

Gloria Zeng, seorang ibu beranak tiga asal Sydney, awalnya enggan meninggalkan Wuhan karena tidak mau tinggal di pusat tahanan imigrasi di Christmas Island.

Namun Zeng berubah pikiran di hari keberangkatan.

"Saya mendapat desakan kuat dari suami saya. Dia mengatakan situasinya tidak bagus, semua negara lain sudah mulai menutup perbatasan mereka," katanya, kepada ABC.

"Dia mengatakan bila kami tetap berada di sini, mungkin diperlukan waktu beberapa bulan sebelum boleh meninggalkan Wuhan, jadi dia sangat khawatir."

Gloria Zeng mengatakan, perjalanan ke bandara berjalan lancar karena pejabat Australia mengatur sehingga mereka bisa melewati pemeriksaan di Wuhan, namun memaksa ketiga anaknya mengenakan masker penutup mulut bukanlah hal yang mudah.

"Tampaknya anak-anak sekarang sudah terkena virus yang ada di mana-mana," katanya.

"Saya sangat khawatir. Ini sudah tidak terkontrol sama sekali. Ini akan jadi perjalanan yang panjang."

Angka kematian akibat virus korona ini sekarang sudah mencapai 360 orang, danm 17.000 kasus positif, dengan 12 di antaranya di Australia.

Pada Minggu (2/2/2020), Filipina melaporkan korban kematian pertama akibat virus korona yang terjadi di luar China.

Warga Australia yang dievakuasi dari Wuhan ini akan dikarantina selama dua pekan di Christmas Island. Mereka akan ditempatkan di Pusat Penahanan Imigrasi yang sekarang ini sudah hampir kosong, disertai oleh tim dokter dan perawat.

Bila tidak ada tanda-tanda mengidap virus korona, mereka kemudian akan diterbangkan ke Perth, yang berjarak empat jam penerbangan dari Christmas Island.

Evakuasi yang dilakukan Australia ini mengikuti jejak yang dilakukan oleh Indonesia, Amerika Serikat, dan Singapura yang melarang semua warga China memasuki negara mereka, bersama dengan penumpang lain yang baru-baru ini mengunjungi China.

Warga negara Australia atau mereka yang memiliki keluarga di Australia masih diperbolehkan pulang, namun Qantas akan mengikuti jejak maskapai internasional lainnya untuk menghentikan penerbangan ke dan dari China.

Di negara bagian New South Wales, lebih dari 1.000 penumpang yang tiba di Sydney dari Daratan China pada Minggu kemarin dites apakah mereka ada yang terkena virus korona.

Jumlah mereka yang dites semakin meningkat, dan pihak berwenang Australia mendesak siapa saja yang baru kembali dari China, dan bukan dari Provinsi Hubei saja, untuk mengisolasi diri sendiri selama 14 hari.

Direktur Kesehatan NSW Kerry Chant mengatakan, mereka yang sudah diuji sejauh ini, hanya tujuh kasus yang sudah dirujuk untuk pengecekan lebih lanjut.

"Besar kemungkinan bahwa semua pasien ini memiliki sebab lain untuk gejala infeksi saluran pernapasan yang mereka alami," katanya.

"Kami mengambil tindakan yang berhati-hati, karena kami tahu virus ini memiliki berbagai gejala mulai dari yang ringan hingga yang berat, jadi kami akan mendapat semua hasil tes mereka hari ini."


Editor : Nathania Riris Michico