Donald Trump Sebut Alasan Pemakzulannya hanya Lelucon
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut upaya memakzulkan dirinya oleh kubu Partai Demorkrat sebagai lelucon.
Demokrat berupaya mendepak Trump dari kursi presiden atas tuduhan pemerasan gaya mafia terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih, Trump membantah menyalahgunakan jabatan dengan berulang kali mendesak Zelensky untuk menyelidiki Joe Biden, pesaingannya di pemilihan presiden (pilpres) 2020.
Upaya pemakzulan akan ditentukan Kamis (26/9/2019), di mana direktur intelijen nasional Joseph McGuire akan bersaksi di hadapan anggota parlemen di Capitol Hill, Washington.
"Mereka mendapat pukulan keras dalam perburuan tukang sihir ini, karena saat mereka mendapat informasi, ini adalah lelucon," kata Trump, dikutip dari AFP.
"Pemakzulan untuk itu? Saat Anda melakukan pertemuan atau berbincang melalui telepon?" ujarnya, merujuk pada isi transkrip percakapannya dengan Zalensky.
Trump sudah menegaskan, tidak ada tekanan terhadap Ukraina sebagaimana disebutkan Zelensky. Sebelumnya transkrip percakapan yang beredar luas mengejutkan banyak pihak, termasuk di internal Partai Republik. Senator Mitt Romney menyebut kejadian ini sangat meresahkan.
Trump menyebut percakapan telepon pada 25 Juli itu tidak cukup dijadikan bukti bahwa dia menekan Zelensky untuk menyelidiki Biden terkait Pilpres AS.
Dalam transkrip percakapan, Trump mengatakan Jaksa Agung AS Bill Barr dan pengacara pribadi Rudy Giuliani akan menghubungi terkait kegiatan Biden dan putranya.
Namun Demokrat, selaku partai yang mengusung Biden, menganggapnya sebagai bukti yang tak terbantahkan.
"Beginilah cara bos mafia berbicara. "Apa yang telah Anda lakukan terhadap kami? Kami telah melakukan begitu banyak untuk Anda tetapi tidak ada timbal balik. Saya ingin bertanya kepada Anda," kata seorang anggota parlemen senior, Adam Schiff.
Dalam mengumumkan Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan tindakan Trump itu sama dengan mengganggu keamanan nasional.
Editor: Anton Suhartono