Drone-Drone Warga Sipil dan Tak Dikenal Ciptakan Ketegangan Baru Hubungan China-Taiwan
TAIPEI, iNews.id - China dinilai mengganggu pertahanan Taiwan menggunakan drone atau pesawat tanpa awak. Pada bulan lalu, terhitung sudah ada 30 drone yang berdengung di dua pulau milik Taiwan dekat pantai selatan China.
Drone China yang terbang di wilayah milik Taiwan didominasi milik warga sipil atau tidak dikenal. Meski demikian, drone-drone itu menargetkan garnisun tentara Taiwan.
"China menggunakan pelecehan semacam itu untuk meningkatkan tekanan, dengan sengaja meningkatkan ketegangan di sekitar Taiwan. Jangan berasumsi bahwa drone sipil tidak ada hubungannya dengan tujuan militer," kata seorang analis di Yayasan Kebijakan Nasional Taiwan, Chieh Chung.
Keberadaan drone-drone ini pada akhirnya menambah ketegangan dua negara. Awalnya, Taiwan mengabaikan keberadaannya. Namun saat jumlahnya mulai meningkat, tentara akhirnya melepaskan tembakan peringatan dan menjatuhkan satu unit ke laut.
Lagi! Delegasi Parlemen AS Kunjungi Taiwan, Ini yang Akan Dibahas
Pada 1 September, tentara Taiwan menjatuhkan drone sipil. Ini merupakan langkah yang tidak biasa bagi Taiwan, yang sebelumnya tetap menahan diri untuk melawan China.
Menurut Kementerian Pertahanan Taiwan, dalam seminggu terakhir, selain bermacam-macam pesawat tempur biasa, militer China juga mengirim empat drone ke wilayah udara dekat Taiwan. China menerbangkan TB-001, sebuah drone tempur yang juga dikenal sebagai Twin-Tailed Scorpion, pada Kamis (8/9/2022) dan dua drone pengintai pada Jumat (9/9/2022) dan Sabtu (10/9/2022).
Presiden Taiwan Sebut Militernya Kini Lebih Kuat, China Patut Waspada
Mantan pejabat Pentagon yang berspesialisasi di China, Drew Thompson mengatakan, militer Taiwan mampu menghadapi jet tempur China. Namun mereka tidak terbiasa dengan gangguan tingkat rendah tetapi terus-menerus.
Ketika drone pertama kali muncul, Taiwan tampak tidak siap. Mereka tidak memiliki peralatan yang memadai untuk melawannya.
"Tentara tertangkap basah. Taiwan masih berperang di abad ke-20 dan perlu merangkul strategi asimetris abad ke-21," katanya.
Mayor Jenderal Chang Jung-Shun dari Komando Pertahanan Kinmen mengatakan, setelah penembakan drone, militer Taiwan mengirimkan jammer drone tambahan. Jammer dapat mengganggu sinyal drone yang mendekat ke pangkalan militer di Pulau Kinmen dan Matsu.
Editor: Umaya Khusniah