Dubes Husnan Raih Penghargaan dari Asosiasi Pers Nasional Azerbaijan
JAKARTA, iNews.id - Duta Besar Republik Indonesia untuk Azerbaijan Husnan Bey Fananie mendapat penghargaan "Duta Besar Sahabat Utama Pers" dari Asosiasi Pers Nasional Azerbaijan, Sabtu (21/7/2018).
Husnan dianggap sangat dekat dengan media Azerbaijan sehingga layak atas penghargaan tersebut. Penghargaan ini sekaligus memperingati hari pers nasional Azerbaijan.
Dalam sambutannya, Husnan mengatakan penghargaan yang diterimanya merupakan perwujudan dari hubungan yang sangat dekat antara Indonesia dan Azerbaijan.
"(Penghargaan) ini menunjukkan betapa dekat hubungan Indonesia dengan Azerbaijan di berbagai bidang, dengan banyaknya pemberitaan tentang hubungan kedua negara di berbagai media di Azerbaijan maupun sebaliknya di Indonesia," ujar alumnus Pondok Pesantren Gontor itu, dalam pernyataannya.
Menurut Husnan, sejarah peradaban bangsa Kaukasus dan Indonesia sudah terjalin sejak abad ke-10 hingga ke-16. Bahkan, disinyalir, Islam masuk ke Nusantara melalui para ulama dari kawasan tersebut. Ini dibuktikan dengan adanya kesamaan artefak di Baros, Sumatera Utara, dan di Maraza, Qabustan.
Lebih lanjut Husnan mengatakan, walaupun jarak antara Azerbaijan dan Indonesia sangat jauh, namun hati kedua masyarakat selalu dekat dan erat.
"Antara Azerbaijan dan Indonesia sangat jauh, namun chemistry dua negara ini sangat dekat dan erat, semoga ke depannya makin banyak lagi kerja sama antara kedua negara. Amin Ya Rabb," kata Husnan.
Penghargaan ini menambah daftar prestasi Husnan selama menjadi diplomat di Azerbaijan. Sebelumnya, dia mendapat penghargaan tiga tahun berturut-turut sebagai Ambassador of the Year. Terakhir, Husnan menerima gelar Profesor Kehormatan dari Azerbaijan University of Languages (AUL) pada 4 Juli 2018.
Pada pertengahan September 2018, KBRI Azerbaijan akan menggelar Indonesia Culture Festival (ICF) 2018.
"Dengan semangat kebersamaan yang kita jalani antara Indonesia dan Azarbaijan, KBRI kembali akan menyukseskan Indoensia Culture Festival (ICF) 2018," tuturnya.
Editor: Anton Suhartono