Fasilitas Minyak Diserang, Saudi Sebut Senjata yang Digunakan Buatan Iran

Anton Suhartono ยท Selasa, 17 September 2019 - 14:25 WIB
Fasilitas Minyak Diserang, Saudi Sebut Senjata yang Digunakan Buatan Iran

Gambar satelit Planet Labs menunjukkan fasilitas minyak Aramco Arab Saudi yang diserang (Foto: AFP)

RIYADH, iNews.id - Arab Saudi akan mengundang para ahli internasional, termasuk dari PBB, untuk ikut menyelidiki serangan terhadap dua fasilitas minyak Aramco yang terjadi pada Sabtu pekan lalu.

Serangan itu menyebabkan berkurangnya produksi minyak Saudi hingga lebih dari setelah serta mengurangi pasokan minyak mentah dunia sebesar 5 persen.

Dalam keterangannya Kementerian Luar Negeri Arab Saudi juga mengajak masyarakat internasional untuk mengecam pihak yang berada di balik serangan tersebut.

"Kerajaan mampu mempertahankan tanah dan rakyat serta merespons serangan-serangan tersebut dengan tegas," bunyi pernyataan kemlu Saudi, dikutip dari Reuters, Selasa (17/9/2019).

Penyelidikan awal menunjukkan, senjata buatan Iran digunakan dalam serangan yang terjadi pada dini hari itu. Namun ada dua spekulasi mengenai lokasi asal drone, yakni diterbangkan dari Yaman, sebagaimana diklaim pemberontak Houthi, dan dari wilayah Irak atau Iran, sebagaimana dilaporkan media Kuwait yang menyebut ada drone yang terbang di wilayah udaranya sebelum fajar atau beberapa saat sebelum ledakan di dua kilang Saudi.

Lebih lanjut kementerian mengungkapkan, serangan itu merupakan buntut dari tindakan permusuhan serupa terhadap dua stasiun pompa minyak Saudi yang diserang 14 Mei 2019. Saat itu pemberontak Houthi merupakan pelakunya.

Presiden Iran Sebut Houthi Berhak Bela Diri

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa serangan terhadap dua fasilitas minyak Aramco merupakan perbuatan orang Yaman.

"Orang-orang Yaman memanfaatkan hak membela diri mereka yang sah, serangan itu merupakan balasan terhadap agresi melawan Yaman selama beberapa tahun," kata Rouhani.

Pemberontak Houthi merupakan kelompok yang bertanggung jawab atas penggulingan pemerintahan sipil Yaman yang sah pada 2015. Dengan bantuan Iran, kelompok Syiah itu memegang kendali Ibu Kota Sanaa.

Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan fasilitas minyak Saudi dan berjanji akan melakukan serbuan lebih besar jika pasukan koalisi yang dipimpin Saudi tak menghentikan serangan serta mencabut blokade.


Editor : Anton Suhartono