Festival Musik Terbesar Australia Makan Korban, 1 Pria Tewas Overdosis

Abdul Hamid ยท Senin, 10 Desember 2018 - 14:27 WIB
Festival Musik Terbesar Australia Makan Korban, 1 Pria Tewas Overdosis

Callum Brosnan (19) tewas karena diduga mengalami overdosis saat menghadiri festival musik di Sydney. (Foto: doc. Facebook)

SYDNEY, iNews.id - Seorang remaja Australia meninggal karena diduga mengalami overdosis di sebuah festival musik di Sydney. Video terakhirnya saat sedang joget beredar di jejaring sosial.

Teman-temannya mengingat dia sebagai orang yang cerdas.

Callum Brosnan (19), pria asal Baulkham Hills, meninggal setelah menghadiri festival musik 'Knockout Games of Destiny', pada Sabtu (8/12/2018) malam. Acara ini disebut-sebut sebagai festival dance music terbesar di belahan selatan dunia.

Callum ditemukan di sebuah stasiun kereta dekat Sydney Olympic Park, tempat digelarnya acara. Dia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Concord, namun dinyatakan meninggal pada Minggu (9/12/2018) pagi.

Dalam festival tersebut juga ditemukan korban gangguan kesehatan lainnya akibat mengonsumsi narkoba.

Tiga kasus paling serius masih berada di rumah sakit 'Westmead Hospital' dalam kondisi stabil.

Sementara sejumlah orang lainnya ditangani oleh pihak berwenang di Sydney Olympic Park.

Teman Callum, Bianca Douglas menyebut dia sebagai pria baik, bijaksana, jujur, dan cerdas.
Douglas juga membagikan video Callum yang sedang berjoget pada Sabtu malam.

"Tidak pernah terbayang jika tadi malam jadi yang terakhir kali melihatnya atau mendengar suaranya lagi," tulis Bianca.

"Kamu adalah sahabatku untuk waktu yang lama, aku mengatakan pada semua orang bahwa kamu adalah saudaraku dan bahkan ketika kami tidak saling bertemu lagi, tapi saling menjaga satu sama lain."

"Kau akan sangat dirindukan oleh semua orang, kata-kata bijakmu dan kenangan yang kami lewati akan selalu bersamaku."

Setelah dua kematian di festival musik Defqon.1 pada Oktober, Pemerintah New South Wales memperkenalkan hukuman baru yang bisa membuat pengedar narkoba dipenjara hingga 25 tahun jika obat mereka memicu kematian.


Editor : Nathania Riris Michico