Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Trump Posting Gambar Tandai Greenland, Venezuela dan Kanada dengan Bendera AS
Advertisement . Scroll to see content

Gawat! Perjanjian Damai Israel-Hamas Belum Final

Senin, 13 Oktober 2025 - 14:16:00 WIB
Gawat! Perjanjian Damai Israel-Hamas Belum Final
Perundingan damai Israel-Hamas yang dimediasi sejumlah negara masih menemui jalan buntu (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

PARIS, iNews.id - Harapan dunia untuk segera melihat berakhirnya perang di Gaza tampaknya masih jauh dari kenyataan. Perundingan damai Israel dan Hamas yang dimediasi sejumlah negara, termasuk Qatar, masih menemui jalan buntu. 
Beberapa isu paling sensitif dalam proposal damai yang diusulkan Presiden AS Donald Trump belum mencapai kesepakatan final.

Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat Menteri Luar Negeri, mengungkapkan pembahasan sejumlah poin krusial dalam kesepakatan gencatan senjata sengaja ditunda karena terlalu alot dan kompleks.

“Negara-negara mediator sepakat untuk menunda isu-isu paling sensitif. Jika kami memaksa membahas semuanya dalam satu paket, kesepakatan ini tidak akan tercapai,” ujar Sheikh Mohammed kepada The New York Times, dikutip Senin (13/10/2025).

Dia menegaskan, baik Israel maupun Hamas, belum siap menyepakati keseluruhan paket perdamaian. Menurut dia, pembahasan yang masih menggantung terutama menyangkut dua hal utama, masa depan persenjataan Hamas dan mekanisme pemerintahan Gaza setelah perang.

Salah satu kendala besar adalah soal pelucutan senjata Hamas. Sheikh Mohammed menjelaskan, masih ada perdebatan tentang kepada siapa Hamas akan menyerahkan senjata, apakah kepada Otoritas Palestina atau entitas baru yang akan dibentuk pascaperang.

“Hamas sebenarnya terbuka untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka tidak akan menjadi ancaman bagi Israel. Namun, pertanyaan besar tetap ada: kepada siapa mereka akan menyerahkan senjata itu?” kata Sheikh Mohammed. 

Meski demikian, Hamas dikabarkan tetap bersedia mempertahankan gencatan senjata jangka panjang. 

Sebelumnya, Kepala Juru Runding Hamas, Khalil Al Hayya, menyampaikan kepada pejabat AS di Doha bahwa pihaknya siap menghentikan perlawanan bersenjata selama 5 hingga 10 tahun sebagai bagian dari kesepakatan jangka panjang.

Namun Hamas menolak pelucutan total sebelum terbentuk Tentara Nasional Palestina yang mewakili seluruh faksi. Kelompok itu juga mengusulkan diadakannya dialog nasional untuk menentukan masa depan Gaza dan nasib sayap militernya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pelucutan senjata Hamas merupakan syarat mutlak sebelum perang benar-benar berakhir. 

“Entah itu akan dicapai dengan cara mudah atau dengan cara sulit, tetapi itu akan tercapai,” ujarnya.

Hamas menilai tuntutan Israel itu sama saja dengan menyerah total dan menganggap perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya cara melawan penjajahan.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut