Gelombang Demo Gen Z Meluas di Eropa, Protes Biaya Hidup hingga Pendidikan
Meski mayoritas demonstran bersikap damai, sejumlah kelompok perusuh dilaporkan menyerang polisi menggunakan kembang api dan berbagai proyektil. Beberapa demonstrasi sebelumnya berujung pada kerusuhan dan penjarahan, termasuk insiden pada 17 Oktober yang disebut mengejutkan pemerintah.
Polisi merespons kerusuhan dengan menembakkan gas air mata, menggunakan granat kejut, meriam air, serta taktik pengendalian massa lainnya. Bentrokan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah orang mengalami cedera serius.
Macron menyatakan demonstrasi pada Sabtu akan diarahkan agar tidak memasuki pusat kota untuk melindungi pertokoan. Kepolisian juga melarang akses ke Place de la Republique dan Les Halles mulai pukul 23.00 hingga 06.00 pada Sabtu dan Minggu.
Selain itu, jam malam khusus diberlakukan mulai pukul 21.00 bagi anak di bawah umur yang tidak didampingi orang dewasa di sekitar kawasan Champs-Elysees. Namun, pada Rabu (28/10/2026), sebuah pengadilan di Paris menangguhkan aturan tersebut karena menilai kebijakan itu merupakan pelanggaran serius dan ilegal terhadap kebebasan bergerak.
Gelombang protes anak muda juga meluas ke sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Italia, dan Spanyol. Seruan demonstrasi turut beredar melalui media sosial di Belgia, Belanda, Austria, Swiss, dan Portugal.