Gunung di White Island Selandia Baru Meletus Tiba-Tiba, 1 Turis Tewas dan 20 Luka

Anton Suhartono ยท Senin, 09 Desember 2019 - 13:09 WIB
Gunung di White Island Selandia Baru Meletus Tiba-Tiba, 1 Turis Tewas dan 20 Luka

Gunung White Island di Selandia Baru (Foto diambil pada Juli 2019: AFP)

WELLINGTON, iNews.id - Kepolisian Selandia Baru mengungkap satu turis diyakini tewas akibat letusan gunung di White Island, Senin (9/12/2019) sore waktu setempat.

Saat kejadian, gunung eksotis yang 70 persen tubuhnya berada di bawah laut itu sedang dikunjungi sekitar 50 turis, bukan 100 seperti disebutkan Perdana Menteri Jacinda Ardern. Beberapa dari turis itu berada di area dekat kawah dan lainnya di sekitar gunung.

Di antara turis yang berkunjung ke White Island berasal dari negara lain, namun tak disebutkan kewarganegaraannya.

Sementara itu kepolisian menyatakan, layanan darurat belum bisa menjangkau area gunung meletus karena terlalu berbahaya. Penyelamatan dilakukan melalui helikopter dari lokasi agak jauh karena menghindari abu vulkanik.

Sebelumnya otoritas Selandia Baru menyebutkan seorang turis dalam kondisi kritis.

PM Ardern mengatakan situasi di pulau vulkanik yang juga dikenal dengan nama Whakaari itu masih terus berkembang.

"Ini merupakan situasi sangat berkembang dan tentu saja semua perhatian diberikan kepada mereka yang terdampak," kata Ardern, seraya menambahkan jumlah pasti dari turis yang berada di sana belum diketahui, dikutip dari AFP.

Menurut keterangan polisi, gunung di White Island meletus pukul 14.11 waktu setempat.

"Beberapa dari mereka berhasil dibawa ke pantai, namun sejumlah lainnya yang diyakini berada di pulau saat ini tidak ditemukan," kata polisi, seraya menambahkan satu di antaranya dalam kondisi kritis.

Layanan Ambulans St John menyatakan, total korban luka 20 orang.

Badan Manajemen Darurat Nasional Selandia Baru mengategorikan letusan gunung White Island sebagai sedang. Asap tebal putih dapat dilihat dari jarak berkilo-kilometer.

White Island berjarak sekitar 50 kilometer dari lepas pantai di Teluk Plenty.

Editor : Anton Suhartono