Haiti Mencekam! Mayat Bergelimpangan di Jalan, Negara-Negara Evakuasi Warganya
PORT AU PRINCE, iNews.id - Situasi di Haiti semakin mencekam, Rabu (20/3/2024). Kerusuhan oleh geng-geng kriminal menyebar di Ibu Kota Port au Prince dan wilayah lain, memaksa negara-negara menarik warga mereka.
Kerusuhan juga pecah di lingkungan elite Petion-Ville, pinggiran Kota Port au Prince. Mereka membarikade diri di rumah di tengah suara tembakan dan mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan.
Media Le Nouvelliste melaporkan, sedikitnya 15 orang tewas dalam serangan di pinggiran kota yang juga terdapat beberapa hotel kelas atas serta belasan kantor kedutaan besar (kedunes). Kelompok bersenjata menyerang wilayah timur ibu kota.
Kawasan Petion-Ville juga dekat dengan sejumlah hotel mewah yang pekan lalu mendapat ancaman dari pemimpin geng kriminal Jimmy 'Barbeque' Cherizier. Dia berjanji akan memburu para pemilik hotel yang menyembunyikan para politisi.
Perdana Menteri Haiti Ariel Henry Mundur
Kekerasan semakin meningkat dan mengkhawatirkan meskipun Perdana Menteri Ariel Henry sudah memenuhi permintaan para geng untuk mengundurkan diri. Mereka mengambil alih jalan-jalan di Port au Prince.
Dewan transisi kepresidenan sudah dibentuk dengan keterlibatan para pemimpin internasional, namun susunan kepengurusannya belum jelas. Pejabat Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini memperkirakan dewan transisi akan terbentuk dalam beberapa hari. Namun beberapa faksi yang terpilih untuk mewakili kelompok mereka di dewan tak sepakat untuk mendukung satu pemimpin.
Makin Beringas! Geng Kriminal Haiti Serang Gedung Pemerintah dan Istana Presiden
Sementara itu faksi yang tidak diikutkan dalam dewan mengkritik langkah tersebut seraya menuduh kelompok lain bertindak korup.
Ratusan ribu warga Haiti terpaksa mengungsi dan ribuan orang tewas di tengah meluasnya laporan pemerkosaan, pembakaran, dan penculikan untuk mendapatkan uang tebusan. Di saat yang sama harga bahan makanan melonjak serta rumah sakit kekurangan pasokan seperti darah dan oksigen.
Gembong Geng Haiti Bersumpah Gulingkan Pemerintahan, Larang Anak-Anak ke Sekolah
Ezechiel Alexandre, pemimpin geng Baz Pilat, mengatakan kelompoknya telah mengambil alih Carrefour Feuilles, distrik berpenduduk padat yang pada Agustus 2023 diserang oleh geng pesainganya, Gran Ravine. Serangan itu menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
“Warga paham mereka harus kembali ke rumah untuk memperbaikinya,” kata pria yang baru-baru ini kabur dari lembaga pemasyarakatan.
Kelompok aktivis mengecam pemerintah yang tak bisa menangani kerusuhan. Mereka juga mengeluarkan surat pada Selasa lalu mengecam pemerintah tidak transparan. Ibu kota menjadi lumpuh akibat ulah para geng kriminal, namun tak ada penjelasan atau tindakan konkret yang diambil.
Sementara itu, negara-negara tetangga meningkatkan keamanan perbatasan. Beberapa kedubes mengevakuasi warga mereka. Republik Dominika menyatakan telah mengevakuasi hampir 300 orang, termasuk petugas dari Uni Eropa, Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Sementara itu AS akan mengevakuasi warganya menggunakan helikopter meski harus dilakukan beberapa kali penerbangan menyusul ditutupnya bandara.
Pejabat Angkatan Darat AS Laura Richardson mengatakan pasukannya siap diterjunkan jika pemerintah memutuskan untuk terlibat menegakkan keamanan di Haiti sebagaimana telah diminta oleh pemerintah negara itu sejak 2022.
Editor: Anton Suhartono