Hancurkan 9 Pangkalan Militer AS, Iran Kuras Anggaran Perang Pentagon Rp866 Triliun
WASHINGTON, iNews.id - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) diduga meremehkan biaya sebenarnya dari perang melawan Iran. Estimasi resmi sebesar 25 miliar dolar AS (sekitar Rp433 triliun) jauh di bawah angka sebenarnya.
Muncul laporan total biaya riil dari perang yang berlangsung sebulan lebih melonjak hingga hampir dua kali lipat.
Sejumlah pejabat internal mengungkap, angka 25 miliar dolar AS yang disampaikan ke publik belum mencakup berbagai komponen penting, seperti biaya perbaikan pangkalan militer yang rusak akibat serangan balasan Iran.
Jika seluruh kerusakan dan penggantian alat tempur dihitung, total biaya perang diperkirakan bisa mencapai 40 hingga 50 miliar dolar AS (antara Rp693 triliun-Rp866 triliun).
Fantastis! Biaya Perang AS Lawan Iran Bengkak 2 Kali Lipat, Tembus Rp860 Triliun
Pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst III, sebelumnya mengatakan sebagian besar dana tersebut digunakan untuk amunisi. Namun, dia juga mengakui bahwa perhitungan lengkap masih belum tersedia karena penilaian kerusakan di berbagai fasilitas militer luar negeri belum selesai.
Ketidakjelasan ini memicu kritik terhadap transparansi pemerintah AS dalam mengungkap biaya perang. Sejumlah pihak menilai angka resmi tersebut hanya mencerminkan sebagian kecil dari beban finansial yang sebenarnya harus ditanggung.
Bukan Sebulan, Dokumen Pentagon Ungkap AS Persiapkan Perang Lawan Iran hingga 6 Bulan
Lebih jauh, laporan juga menyebutkan setidaknya sembilan pangkalan militer AS di Timur Tengah mengalami kerusakan signifikan akibat serangan balasan Iran. Serangan Iran merusak fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar.
Kerusakan bukan hanya pada bangunan, namun juga sistem pertahanan canggih dan peralatan militer bernilai tinggi.
Pentagon belum memiliki estimasi final terkait total biaya pemulihan. Proses penghitungan masih berlangsung, seiring upaya menentukan fasilitas mana saja yang harus dibangun ulang atau diperbaiki.
Editor: Anton Suhartono