Harga Minyak Dunia Melemah usai Trump Beri Keringanan Sanksi Energi Rusia
JAKARTA, iNews.id - Harga minyak dunia turun pada perdagangan, Senin (19/10/2026) usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi keringanan terhadap sebagian sanksi dan tarif terkait Rusia. Kebijakan ini menumbuhkan harapan tambahan pasokan minyak dari Rusia ke pasar internasional.
Melansir Quartz, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Desember turun 1 persen menjadi 108,72 dolar AS per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Desember melemah 0,6 persen menjadi 98,40 dolar AS per barel.
Adapun, Trump menerbitkan perintah tertanggal 16 Oktober berdasarkan Undang-Undang Sanksi terhadap Rusia dan Iran Lindsey O. Graham 2026, yang ditandatangani pada 18 September. Peraturan itu menetapkan kenaikan tarif sebesar 500 persen terhadap barang-barang Rusia.
Aturan ini juga menetapkan kenaikan tarif sebesar 100 persen bagi lima importir terbesar minyak mentah dan gas alam Rusia yang melakukan pembelian baru mulai 18 Oktober, serta lima pihak utama yang membantu menghindari sanksi minyak Rusia.
Namun, melalui perintah tersebut, Trump menangguhkan penerapan tarif dan sejumlah ketentuan sanksi dalam undang-undang itu.
Pengecualian tersebut berlaku sampai Trump atau Menteri Luar Negeri AS memutuskan bahwa langkah lanjutan diperlukan. Perintah itu juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak memengaruhi sanksi atau tindakan lain yang diberlakukan melalui perintah eksekutif sebelumnya terkait Rusia.
Menurut laporan The Wall Street Journal, pelaku pasar mempertimbangkan potensi tambahan pasokan dari Rusia di tengah risiko geopolitik yang masih membayangi Timur Tengah.
Analis ANZ Research menilai, pelemahan harga minyak dunia kemungkinan merupakan koreksi teknis setelah kenaikan pada Jumat. Mereka juga memperkirakan ketegangan geopolitik dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut, menurut laporan The Wall Street Journal.
Di sisi lain, serangan terhadap infrastruktur energi Rusia masih berlangsung. Drone Ukraina menghantam terminal minyak di St Petersburg pada Minggu. Terminal tersebut menangani produk olahan minyak, terutama minyak bakar, dengan volume sekitar 120.000 barel per hari.
Risiko gangguan pasokan juga masih tinggi di Timur Tengah. Dua kapal tanker diserang di lepas pantai Arab Saudi pada Jumat, sedangkan sebuah kapal tunda diserang di dekat Uni Emirat Arab pada Minggu.
Laporan yang sama menyebut pengiriman minyak terkonfirmasi melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai 10,17 juta barel per hari selama pekan yang berakhir pada Sabtu. Angka tersebut sekitar 41 persen lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum perang.
Harga minyak sebelumnya melonjak pada akhir September setelah Trump menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan Selat Hormuz selama tujuh hari. Saat itu, harga Brent sempat naik lebih dari 4 persen menjadi 108,68 dolar AS per barel.
Perkembangan tersebut menunjukkan pasar minyak masih dipengaruhi dua faktor utama, yakni peluang bertambahnya pasokan dari Rusia dan risiko gangguan distribusi energi akibat konflik geopolitik.
Editor: Aditya Pratama