Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Presiden Prancis Mendadak ke Arab Saudi, Ada Apa?
Advertisement . Scroll to see content

Horor! Gelombang Panas di Eropa Renggut 30.000 Nyawa Lebih

Minggu, 23 Agustus 2026 - 06:49:00 WIB
Horor! Gelombang Panas di Eropa Renggut 30.000 Nyawa Lebih
Eropa mencatat 30.000 kasus kematian tambahan selama gelombang panas terik serta kekeringan yang memicu kebakaran hutan (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

PARIS, iNews.id - Eropa mencatat 30.000 kasus kematian tambahan selama gelombang panas serta kekeringan. Angka tersebut menunjukkan tambahan jumlah orang yang meninggal dunia, di luar kondisi normal.

Data yang diungkap platform EuroMomo menunjukkan, selama pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus, Eropa mengalami lebih dari 32.000 kematian tambahan. Padahal perode tersebut bukan awal maupun akhir dari musim panas.

EuroMomo tidak merilis data kematian per negara, namun otoritas negara-negara Eropa menerbitkan angka sementara, termasuk periode yang sama dengan penghitungan EuroMomo. Bahkan, data dari negara-negara tersebut dihitung dari akhir Mei, waktu dimulainya musim panas di sebagian negara, hingga Agustus.

Berdasarkan perkiraan pekanan terbaru EuroMomo, pekan terakhir Juni tampaknya menjadi minggu paling mematikan di Eropa, dengan hampir 16.000 kematian tambahan yang tercatat. Selanjutnya pekan pertama Juli berada di urutan kedua dengan sekitar 8.000 kematian.

Kedua minggu tersebut bertepatan dengan salah satu gelombang panas dahsyat yang melanda Eropa pada musim panas tahun ini. Di saat yang sama, kekeringan yang meluas memicu kebakaran hutan dahsyat.

Karena perkiraan terbaru EuroMomo akan disempurnakan dalam beberapa pekan ke depan, total angka kematian tambahan diperkirakan akan terus berubah.

Data tersebut hanya mencakup data dari 23 negara Eropa, tidak termasuk sebagian wilayah timur benua tersebut.

Sementara itu kantor berita AFP menghitung 33.000 kematian tambahan yang terkait dengan gelombang panas secara langsung. Angka itu berdasarkan data resmi yang dikumpulkan dari delapan negara, yakni Austria, Belgia, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Portugal, dan Spanyol.

Jerman, negara terpadat di Uni Eropa dengan 82 juta penduduk, mencatat 14.000 kematian tambahan terkait dengan gelombang panas hingga 9 Agustus. Jumlah tersebut merupakan rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2016.

Seperti negara-negara Eropa lain, kalangan berusia di atas 75 tahun paling banyak menjadi korban serangan panas.

Selanjutnya, Prancis mencatat 7.300 kematian tambahan selama periode akhir Mei hingga 22 Juli.

Jumlah kematian selama musim panas hampir pasti akan meningkat, karena gelombang panas panjang yang dimulai pada akhir Juli baru saja berakhir.

Hampir 4.500 kematian disebabkan oleh panas tercatat di Spanyol pada periode 1 Juni hingga 19 Agustus. Itu merupakan angka tertinggi untuk periode tersebut sejak 2022.

Otoritas kesehatan dan keselamatan Inggris memperkirakan 2.877 kematian akibat gelombang panas pada periode Mei hingga Juni. Angka itu diperkirakan terus bertambah, melampaui angka historis 2.985 pada musim panas 2022.

Jumlah sementara kasus kematian di Belgia bahkan lebih mematikan dibandingkan populasinya. Menurut perkiraan institut kesehatan masyarakat nasional Sciensano, negara tersebut mengalami 2.570 kasus kematian tambahan antara 18 Juni dan 17 Juli.

Jumlah korban jiwa akan diperbarui pada September untuk memperhitungkan periode dari 25 Juli hingga 16 Agustus, yang menandai awal kebakaran hutan terburuk dalam sejarah modern negara itu.

Berikutnya, hasil analisis AFP terhadap angka-angka dari lembaga RIVM Belanda menunjukkan, angka kematian tambahan di negara tersebut pada 22 Juni hingga 5 Juli mencapai 968 orang.

Sementara itu otoritas Austria mencatat jumlah kematian terkait gelombang panas pada Juni sebanyak 396.

Sementara itu, Portugal mencatat lebih dari 600 kematian tambahan antara pertengahan Juni hingga akhir Juli.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut