Inggris: Persekusi Umat Kristiani di Dunia Hampir Seperti Genosida

Nathania Riris Michico · Selasa, 07 Mei 2019 - 09:49:00 WIB
Inggris: Persekusi Umat Kristiani di Dunia Hampir Seperti Genosida
Gadis remaja Kristen Suriah menghadiri misa Jumat Agung di gereja Perawan Suci di Kota Qamishli, saat perayaan Paskah. (FOTO: DELIL SOULEIMAN / AFP)

LONDON, iNews.id - Persekusi terhadap umat Kristiani di berbagai belahan dunia hampir seperti genosida. Hal itu berdasarkan kajian yang diselenggarakan atas perintah Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris, Jeremy Hunt.

Penelitian yang dipimpin Uskup untuk wilayah Canterbury, Philip Mounstephen, memperkirakan satu dari tiga umat Kristiani mengalami persekusi berbasis agama.

Kajian itu menyimpulkan bahwa umat Kristiani adalah kelompok penganut agama yang paling sering mengalami persekusi.

Terkait temuan itu, Jeremy Hunt menilai 'kesantunan politik' merupakan salah satu faktor yang membuat persoalan ini tidak naik ke permukaan.

Kajian yang masih berlangsung itu menyebut dampak terbesar persekusi adalah eksodus besar umat Kristiani keluar dari suatu wilayah.

Penelitian tersebut juga menemukan fakta, kekristenan menghadapi penghancuran di sejumlah wilayah di Timur Tengah. Kajian itu mengingatkan bahwa kekristenan berpotensi hilang di beberapa kawasan dunia.

Para peneliti merujuk jumlah umat Kristiani di Palestina yang kurang dari 1,5 persen populasi dan yang anjlok dari 1,5 juta orang pada 2003 menjadi 120.000 umat di Irak.

"Bukti yang ada menunjukkan, bukan hanya sebaran geografis persekusi anti-umat Kristiani, tapi juga kekejaman yang meningkat," tulis Uskup Philip Mounstephen, seperti dilaporkan BBC, Selasa (7/5/2019).

"Di beberapa kawasan, tingkat persekusi dapat dikatakan nyaris mencapai standar internasional untuk definisi genosida yang diadopsi Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata Mounstephen.

Sehari setelah natal 2018, Kementerian Luar Negeri Inggris meminta kajian itu dilakukan di tengah protes atas perlakuan terhadap Asia Bibi.

Bibi merupakan perempuan penganut Kristiani di Pakistan yang menerima ancaman pembunuhan atas tudingan penodaan agama.

Kajian ini terbit setelah setidaknya 250 orang meninggal pada serangan di sejumlah gereja dan hotel di Pakistan pada Minggu Paskah, April lalu.

Selain korban tewas, sekitar 500 orang luka-luka akibat kejadian tersebut.

Menurut Menlu Inggris Jeremy Hunt, banyak pemerintahan 'abai' terhadap persekusi ini. Dia berujar, serangan di Sri Lanka dan kajian tersebut 'membuka mata setiap orang'.

"Saya rasa ada kekhawatiran yang salah tempat, bahwa bagaimanapun, penjajah akan selalu bicara tentang agama yang dikaitkan dengan kekuatan kolonial, bukan negara yang mereka hendak taklukkan,' ujar Hunt.

"Itulah yang barangkali menciptakan keanehan saat membicarakan persoalan ini. Peran misionaris selalu kontroversial dan membuat orang menghindar untuk mendiskusikannya."

"Yang kita lupakan dalam nuansa kesantunan itu adalah orang-orang Kristen yang dipersekusi itu merupakan kelompok manusia termiskin di planet ini," tutur Hunt.

Merespons kajian itu, Presiden Dewan Deputi Yahudi Inggris, Marie van der Zyl, menyebut kelompoknya selalu menjadi target persekusi. Dia menyesalkan hal yang sama terjadi pada umat Kristiani.

"Baik karena rezim otoritarian atau kefanatikan yang bertopeng di balik pandangan keliru atas suatu agama, laporan seperti ini mengingatkan kita bahwa ada banyak tempat di mana umat Kristen menghadapi kekerasan, siksaan, dan gangguan yang mengerikan," ujar van der Zyl.

Temuan lengkap kajian yang disokong Kemlu Inggris ini bakal dipublikasikan dalam satu-tiga bulan ke depan.

Editor : Nathania Riris Michico

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda