Ini Pemicu Kekalahan Partai Republik dalam Pemilu AS, Salah Satunya Perang Iran
WASHINGTON, iNews.id - Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali DPR dan Senat. Sejumlah faktor menjadi pemicu kekalahan tersebut, mulai dari perang melawan Iran, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump.
Perang Iran menjadi salah satu persoalan yang membebani Partai Republik. Konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026 itu memicu gejolak pasar energi dan mendorong kenaikan harga bensin di AS. Kondisi tersebut semakin menekan masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi tingginya biaya hidup.
Banyak pemilih menilai kebijakan Trump, termasuk perang Iran dan tarif impor, justru memperburuk kondisi ekonomi. Padahal, salah satu janji utama Trump saat memenangkan pemilihan presiden 2024 adalah mengendalikan inflasi dan menurunkan harga kebutuhan sehari-hari.
Hasil jajak pendapat pemilih atau exit poll yang dilakukan SSRS untuk konsorsium media AS, termasuk Associated Press (AP), menunjukkan hampir 9 dari 10 pemilih menganggap biaya hidup sebagai faktor penting atau sangat penting dalam menentukan pilihan mereka.
Mayoritas pemilih juga merasa kondisi ekonomi mereka lebih buruk dibandingkan sebelum Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025.
Berikut sejumlah faktor yang menjadi pemicu kekalahan Partai Republik dari Demokrat, sebagaimana dirangkum dari laporan media internasional.
1. Perang Iran Memicu Kenaikan Harga Bensin
Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menjadi salah satu persoalan utama yang membayangi kampanye Partai Republik.
Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 itu mengganggu pasokan energi dunia, terutama setelah ketegangan di Selat Hormuz menghambat lalu lintas kapal tanker minyak.
Dampaknya terasa hingga ke masyarakat AS melalui kenaikan harga bensin dan biaya energi.
Jajak pendapat CBS News menunjukkan mayoritas pemilih menilai keputusan AS melakukan aksi militer terhadap Iran merupakan langkah yang keliru. Bahkan, sekitar seperempat pemilih dari Partai Republik memiliki pandangan serupa..
2. Harga Kebutuhan Pokok Tak Kunjung Turun
Faktor berikutnya adalah persoalan ekonomi, terutama tingginya biaya hidup yang masih dirasakan masyarakat AS.
Trump kembali ke Gedung Putih dengan janji mengendalikan inflasi dan membuat kehidupan masyarakat lebih terjangkau. Namun, hingga pemilu paruh waktu berlangsung, banyak pemilih merasa kondisi keuangan mereka belum membaik.
Laporan Reuters, Senin (2/11/2026) mengungkap, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari menjadi perhatian utama pemilih menjelang pemilu.
Hampir 9 dari 10 pemilih menyebut biaya hidup sebagai faktor penting dalam menentukan pilihan mereka. Persoalan tersebut mencakup harga bensin, makanan, tagihan listrik, hingga biaya kebutuhan rumah tangga.
Sekitar 88 persen pemilih juga mengaku sangat atau cukup khawatir mengenai harga bahan makanan.
3. Tarif Impor Justru Membebani Masyarakat
Kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump juga menjadi faktor yang memperburuk persepsi pemilih terhadap pemerintahannya.
Trump memberlakukan tarif masuk terhadap berbagai produk impor dengan tujuan melindungi industri dalam negeri dan mendorong produksi di AS.
Namun, kebijakan tersebut juga memunculkan kekhawatiran mengenai kenaikan harga barang impor dan biaya produksi perusahaan.
Pemilih turut menyalahkan kebijakan tarif Trump atas tingginya harga barang yang harus mereka bayar.
Dalam jajak pendapat pemilih yang dilaporkan Reuters, sekitar dua pertiga responden menilai kebijakan Trump, termasuk tarif impor dan perang Iran, telah memperburuk kondisi ekonomi.
4. Trump Salah Mengangkat Kandidat di Sejumlah Negara Bagian
Faktor lainnya adalah persoalan kandidat yang diusung dan didukung Trump dalam pemilu.
Associated Press melaporkan, dukungan Trump terhadap sejumlah kandidat Republik yang kontroversial tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari kekalahan.
Bahkan, sejumlah kandidat yang memperoleh dukungan politik dan dana kampanye besar tetap gagal mengalahkan lawannya dari Demokrat.
Demokrat Kini Kuasai DPR dan Senat
Gabungan berbagai persoalan tersebut berujung pada kemenangan Demokrat dalam pemilu paruh waktu.
Berdasarkan proyeksi sejumlah media, Demokrat diperkirakan menguasai 54 kursi Senat, termasuk dua senator independen yang bersekutu dengan mereka. Sementara Republik memperoleh 44 kursi.
Di DPR, Demokrat sementara mengamankan sedikitnya 228 kursi, melampaui ambang batas mayoritas 218 kursi. Republik baru memperoleh 139 kursi berdasarkan penghitungan sementara.
Demokrat juga memperluas pengaruh di tingkat negara bagian dengan memenangkan 28 jabatan gubernur, dibandingkan 20 yang dimenangkan Republik.
Kemenangan tersebut memungkinkan Demokrat mengendalikan komite-komite Kongres, melakukan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump, serta menghambat sejumlah agenda legislatif presiden.
Trump menegaskan siap bekerja sama dengan Demokrat dalam sejumlah persoalan, termasuk imigrasi. Namun, dia menegaskan tidak akan berkompromi mengenai kebijakan yang disebutnya sebagai open border.
Editor: Anton Suhartono