Ini Pernyataan Kontroversial Duterte soal Pelaku Narkoba Layak Dibunuh
MANILA, iNews.id - Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjadi sorotan aktivis hak asasi manusia (HAM) internasional terkait upayanya melawan peredaran narkoba. Sejak dia menjadi presiden pada tahun lalu, hampir 4.000 orang tewas dalam operasi narkoba.
Dia berdalih bahwa orang-orang yang terbunuh itu benar-benar tersangkut dengan kasus narkoba dan mendapat hukuman setimpal.
"Saya sadar bahwa saya sudah dikutuk. Tapi cap melakukan perbuatan di luar hukum yang ditujukan ke saya itu tidak benar. Saya tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah memerintahkan setiap polisi di negara ini untuk mengatakan, bunuh saja mereka tanpa alasan," ucapnya, belum lama ini.
Beberapa organisasi HAM yang mengkritik cara ekstrem Duterte itu adalah Amnesty International, Human Right Watch (HRW), dan Uni Eropa.
Duterte dikenal sangai membenci bandar narkoba atau orang yang berkaitan dengan bisnis obat terlarang itu. Sejak kampanye pilpres tahun lalu, dia berkali-kali menyampaikan pernyataan kontroversial yakni akan membunuh pelaku narkoba.
Berikut pernyataan-pernyataan kontroversial Duterte soal narkoba, sebagaimana dirangkum AFP, Sabtu (11/11/2017):
16 Maret 2016
“Jika saya menjadi presiden, saya akan perintahkan polisi dan militer untuk menemukan orang-orang ini dan membunuhnya.”
30 Juni 2016
“Jika Anda mendapati orang pecandu, silakan bunuh mereka. Jika orangtua mereka yang melakukannya, ini akan sangat menyakitkan.”
6 Agustus 2016
“Kampanye untuk menembak hingga tewas akan terus berlangsung sampai akhir jabatan saya. Saya tidak peduli dengan HAM, percayalah pada saya.”
12 Desember 2016
“Saya bisa melakukannya (membunuh) seorang diri, hanya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa jika saya saja bisa bisa, mampukah Anda? “
27 Oktober 2017
“Lupakan apa yang mereka katakan (aktivis HAM). Masalah dengan hama-hama ini, mereka mengundang komisi HAM (PBB) dan semuanya hanya untuk menunjukkan statistik, ini 10 ribu orang tewas. Apa-apan ini, sebenarnya mereka bisa menambah jumlahnya, bikin saja 50 ribu.”
Editor: Anton Suhartono