Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Patrick Kluivert Latih Tunisia usai Dipecat Timnas Indonesia? Bisa Main di Piala Dunia 2026
Advertisement . Scroll to see content

Intelijen AS Ungkap Israel Gunakan Kapal Selam Serang Armada Global Sumud Flotilla

Sabtu, 04 Oktober 2025 - 14:26:00 WIB
Intelijen AS Ungkap Israel Gunakan Kapal Selam Serang Armada Global Sumud Flotilla
Pejabat intelijen AS mengungkap serangan terhadap sejumlah kapal GSF dilakukan menggunakan kapal selam dan drone (Foto: GSF)
Advertisement . Scroll to see content

TEL AVIV, iNews.id - Operasi militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ternyata tak hanya dilakukan di permukaan laut. Dua pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, serangan terhadap sejumlah kapal GSF dilakukan menggunakan kapal selam dan drone tempur, atas perintah langsung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut laporan CBS News, pasukan Israel meluncurkan drone dari kapal selam yang beroperasi secara rahasia di Laut Mediterania. Drone itu kemudian menjatuhkan bahan peledak ke dua kapal GSF pada 8 dan 9 September 2025 saat kapal sedang lego jangkar di luar pelabuhan Sidi Bou Said, Tunisia.

Serangan itu menyebabkan kebakaran besar di dua kapal kemanusiaan tersebut. Sumber-sumber intelijen AS menyebut, operasi dilakukan tepat setelah tokoh-tokoh penting dan pejabat pendukung GSF meninggalkan lokasi pelabuhan, seolah-olah telah direncanakan dengan intelijen tingkat tinggi.

Aktivis GSF sebelumnya menduga serangan itu dilakukan oleh Israel, namun baru kini terkonfirmasi lewat laporan intelijen AS. 

“Kami yakin ini bukan kecelakaan, tapi sabotase yang dirancang,” kata salah satu anggota flotilla yang selamat dari serangan.

Setelah insiden itu, Angkatan Laut Israel kembali melakukan aksi besar dengan mencegat 13 kapal GSF pada Rabu lalu. Ratusan aktivis internasional, termasuk Greta Thunberg, ditangkap dan dibawa ke pelabuhan Ashdod. Dalam operasi tiga hari berikutnya, lebih dari 40 kapal flotilla ditangkap dengan total 450 lebih aktivis dari 50 negara.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menyebut para aktivis itu sebagai “teroris yang menyamar sebagai relawan kemanusiaan”, pernyataan yang langsung memicu kecaman keras dari dunia internasional.

Banyak pihak menilai penggunaan drone dan kapal selam terhadap misi sipil merupakan eskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional. Serangan di perairan Tunisia juga dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan negara lain.

Sementara itu, Netanyahu belum menanggapi tudingan bahwa dia memerintahkan langsung operasi bawah laut tersebut. 

Namun bagi dunia internasional, operasi rahasia ini mempertegas bahwa Israel tidak segan menggunakan kekuatan militer penuh terhadap inisiatif kemanusiaan, bahkan di luar batas yurisdiksi negaranya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut