Iran Siapkan Skenario Terburuk Perang Lanjutan dengan Israel
Luka Perang Belum Sembuh
Pertempuran Juni lalu meninggalkan luka mendalam bagi Iran. Serangan Israel menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk komandan senior Garda Revolusi Islam (IRGC) dan ilmuwan nuklir penting. Situasi makin memanas ketika Amerika Serikat ikut membantu Israel dengan menghantam tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak yang menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Qatar, menewaskan puluhan orang. Pertempuran baru berhenti setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian operasi militer pada 24 Juni.
Namun, karena tidak ada perjanjian resmi, konflik itu sewaktu-waktu bisa kembali pecah.
“Iran tidak akan memulai perang, tapi kami pasti membalas jika diserang,” kata sejumlah pejabat militer Iran.
Ancaman Nuklir Jadi Pusat Ketegangan
Isu nuklir menjadi alasan utama Israel dan AS terus menekan Teheran. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran memperkaya uranium hingga 60 persen, angka yang hanya selangkah lagi menuju level senjata nuklir (90 persen).
Negara-negara Barat menuduh Iran sedang berupaya membuat senjata nuklir, meski tuduhan itu berulang kali dibantah Teheran. Iran berdalih pengayaan tinggi dilakukan sebagai respons atas keputusan AS keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi berat.
Inggris, Prancis, dan Jerman (E3) pun mengancam akan menghidupkan kembali sanksi yang sebelumnya dicabut jika Iran menolak kembali ke meja perundingan.
Editor: Anton Suhartono