Iran Tolak Negosiasi dengan AS saat Ini, Fokus Perang
TEHERAN, iNews.id - Iran menegaskan saat ini tidak memiliki rencana bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS), di tengah memanasnya konflik militer kedua negara. Pemerintah Iran menegaskan fokus utama adalah mempertahankan negara dari serangan yang terus meningkat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmail Baghaei menegaskan, Teheran belum mempertimbangkan jalur perundingan dengan Washington, meski hal itu dituntut Presiden Donald Trump. Menurut dia, prioritas pemerintah saat ini adalah menghadapi agresi militer AS.
"(Iran) Fokus pada pertahanan," kata Baghaei, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (16/7/2026).
Hal senada disampaikan Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi. Dia mengatakan, militer Iran saat ini fokus menghancurkan infrastruktur militer AS di negara-negara Timur Tengah.
"Operasi Iran saat ini fokus pada penghancuran infrastruktur militer ofensif AS di kawasan tersebut. Fase selanjutnya akan dimulai setelah itu," kata Mohebbi.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengatakan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut bahkan meningkat dalam beberapa hari ke depan. Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik serta jembatan di Iran pekan depan, kecuali Teheran bersedia kembali ke meja perundingan.
Meski demikian, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, negaranya tidak pernah menginginkan perang. Namun, Iran akan tetap siap menghadapi konflik demi menjaga keamanan dan kepentingan nasional.
"Kami tidak pernah menginginkan perang dan tidak menginginkannya sekarang, tapi kami harus selalu siap untuk berperang serta membela keamanan dan kepentingan nasional hingga napas terakhir," kata Ghalibaf, dalam pernyataan di Telegram.
Ghalibaf, yang juga merupakan ketua tim juru perunding Iran dengan AS, menambahkan diplomasi tetap menjadi instrumen penting untuk memperjuangkan kepentingan nasional.
"Pada saat yang sama, kita juga harus menggunakan diplomasi dan negosiasi untuk memajukan dan melindungi kepentingan nasional kita," ujarnya.
Editor: Anton Suhartono