Iran Tunjuk Esmail Qaani sebagai Komandan Pasukan Elite yang Baru Gantikan Soleimani
TEHERAN, iNews.id - Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei menunjuk komandan pasukan elite Quds, unit di bawah Garda Revolusi, baru untuk menggantikan Qasem Soleimani yang tewas dalam serangan roket Amerika Serikat.
Brigadir Jenderal Esmail Qaani akan menduduki posisi yang ditinggalkan Soleimani. Qaani sebelumnya menjadi orang nomor 2 di pasukan elite Quds.
"Menyusul tewasnya jenderal Qasem Soleimani, saya menunjuk Brigadir Jenderal Esmail Qaani sebagai komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam," kata Khamenei, dalam pernyataan yang diunggah di situs web resminya, seperti dilaporkan AFP, Jumat (3/1/2020).
Khamenei menggambarkan Qaani sebagai salah satu komandan paling berjasa dari Pasukan Garda Revulusi saat perang Iran-Irak pada 1980 sampai 1988.
"Tugas bagi pasukan (Quds) tetap sama seperti saat kepemimpinan Soleimani," kata Khamenei, seraya mengajak militer untuk bekerja sama dengan Qaani serta mendoakan agar dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
Soleimani tewas bersama pejabat militer Irak setelah rombongannya dihantam roket AS di bandara Baghdad. Serangan terhadap Soleimani diperintah langsung oleh Presiden AS Donald Trump.
Departemen Pertahanan AS mengungkap, pembunuhan Soleimani dilakukan demi melindungi personel AS yang bertugas di Timur Tengah.
"Jenderal Qasem Soleimani meninggal sebagai tindakan defensif untuk melindungi personel AS di luar negeri," demikian pernyataan Pentagon.
Soleimani merupakan salah satu tokoh populer di Iran dan dipandang sebagai musuh mematikan bagi AS dan sekutunya. Sebaliknya, di dalam negeri dia dielu-elukan sebagai pahlawan.
Hal ini karena dia memimpin Pasukan Quds, unit di bawah Pasukan Garda Revolusi, yang bertugas menjalankan misi luar negeri. Soleimani sudah memimpin Pasukan Quds sejak sebelum AS menginvasi Afghanistan pada 2001.
Selain itu Soleimani juga memiliki pengaruh besar di kawsan sejak 2018. Hal ini bisa dilihat dari keterlibatannya dalam pembicaraan tingkat tinggi untuk membentuk pemerintahan Irak.
Namun profil Soleimani naik pertama kali bukan terkait konflik di Irak, melainkan Suriah. Dia berperan dalam pengiriman pasukan Iran ke Suriah sejak sejak 2013 untuk membantu Presiden Bashar Al Assad melawan pemberontak.
Tak hanya itu, dalam wawancara dengan stasiun televisi Iran pada Oktober lalu, Soleimani mengaku turut berperan membantu milisi Hizbullah di Lebanon dalam berperang melawan Israel pada 2006.
Bagi para penggemar dan musuh, Soleimani dikenal sebagai arsitek utama yang memberikan pengaruh Iran di kawasan, memimpin perang melawan kelompok jihadis di Suriah, dan memperkuat pengaruh politik Iran di Irak, Suriah, dan sekitarnya.
Editor: Anton Suhartono