Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 2 Kali Menjabat, Bisakah Donald Trump Ikut Pilpres AS Lagi?
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Ivanka Trump, putri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, disebut punya keinginan meneruskan jejak sang ayah menjadi presiden AS. Ivanka, yang saat ini menjabat sebagai penasihat Gedung Putih, siap untuk menjadi presiden perempuan pertama AS.

Ambisi Ivanka ini ditulis oleh Michael Wolff dalam bukunya 'Fire and Fury: Inside the Trump White House' seperti dilansir CNN, Kamis (4/1/2018). Wolff menulis Ivanka Trump telah mengantongi restu dari suaminya, Jared Kushner.

"Antara mereka berdua (Ivanka dan Jared), keduanya telah melakukan kesepakatan dengan sungguh-sungguh. Jika suatu saat di masa depan kesempatan itu muncul, dia (Ivanka) akan mencalonkan diri sebagai presiden AS," tulis Wolff, dalam bukunya.

"Presiden perempuan pertama, tidak akan menjadi milik Hillary Clinton, tapi Ivanka Trump," demikian salah satu kutipan tulisan Wolff.

Belum jelas darimana asal sumber tulisan Wolff ini. Namun, dalam buku itu juga dibeberkan perseteruan antara mantan ketua tim kampanye Trump, Steve Bannon, dengan Ivanka dan suaminya.

"Bannon, yang telah menciptakan istilah 'Jarvanka' yang sekarang lebih banyak digunakan di Gedung Putih, merasa ngeri saat kesepakatan pasangan itu dilaporkan kepadanya," ungkap Wolff.

Wolff menyebut Bannon sangat kaget dan tidak menyangka ketika Ivanka dan suaminya sangat vokal untuk menduduki kursi presiden dalam pilpres AS mendatang.

Sejak ikut berpartisipasi dalam kampanye Trump pada pilpres lalu, Ivanka terlihat siap terjun ke dunia politik. Dia bahkan rela melepas bisnis fesyennya dan dibayar cuma-cuma selama menjabat sebagai penasihat kepresidenan.

Ibu Ivanka sekaligus istri pertama Trump, Ivana, menulis tentang masa depan politik potensial putrinya dalam memoarnya yang berjudul "Raising Trump." Dalam memoar tersebut, Ivana mengatakan Ivanka bisa mencalonkan diri menuju Gedung Putih sekitar 15 tahun lagi.

"Siapa tahu, suatu hari, dia (Ivanka) mungkin (presiden) wanita pertama AS," tulis Ivana.

Namun Gedung Putih dengan tegas membantah laporan di buku Wolff itu. Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders juga mengatakan buku tersebut diisi dengan keterangan palsu, menyesatkan, bahkan dia menyebut buku itu tidak lebih dari sampah.

"Berpartisipasi dalam sebuah buku seperti tabloid fiksi sampah adalah usaha menyedihkan," kata Sanders.

Meski demikian, apabila berniat menjadi presiden AS di masa mendatang, Ivana memiliki peluang yang sama besar dengan mantan pesaing ayahnya, Hilarry Clinton. Kans Ivana untuk terjun ke dunia politik terbuka lebar mengingat kontribusinya bagi politik luar negeri AS saat ini.

Ivanka juga aktif menyampaikan pidato soal pelecehan yang dialami perempuan. Mengingat isu seputar kekerasan seksual pada perempuan sedang hangat belakangan ini, Ivanka menegaskan pelecehan pada wanita tidak bisa ditoleransi lagi.

Hillary Clinton sendiri saat ini masih menjadi satu-satunya perempuan yang 'hampir' menjadi presiden AS. Dia harus menerima kekalahan dari Trump yang unggul dalam perolehan electoral college pada pilpres 2016. Dalam electoral college, Hillary Clinton hanya mendapat 232 suara sedangkan Trump meraup 290 suara.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut