Joshua Wong Dihukum 13 Bulan Penjara karena Demo Besar di Hong Kong Tahun Lalu

Ahmad Islamy Jamil ยท Rabu, 02 Desember 2020 - 15:58:00 WIB
Joshua Wong Dihukum 13 Bulan Penjara karena Demo Besar di Hong Kong Tahun Lalu
Joshua Wong. (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id – Salah satu aktivis prodemokrasi paling terkemuka di Hong Kong, Joshua Wong (24), dijatuhi hukuman 13 bulan penjara atas perannya dalam unjuk rasa antipemerintah, tahun lalu. Hukuman itu sekaligus meningkatkan tekanan China terahadap tokoh-tokoh oposisi di kota bekas jajahan Inggris tersebut.

Wong mengaku bersalah mengatur dan menghasut pertemuan yang melanggar hukum di dekat markas besar Kepolisian Hong Kong saat berlangsungnya puncak demonstrasi—yang terkadang disertai kekerasan—pada Juni tahun lalu. Atas perbuatannya itu, Wong dituntut dengan hukuman maksimal tiga tahun penjara.

Sekitar 100 pendukung aktivis muda itu berkumpul diam-diam di dalam ruang sidang, menjelang pembacaan putusan. Sementara, sekelompok kecil orang pro-Beijing berkumpul di luar pengadilan, menyerukan hukuman penjara yang berat terhadap Wong.

“Saya tahu, hari-hari mendatang akan lebih sulit, kami akan bertahan di sana,” teriak Wong setelah putusan tentang hukumannya dibacakan pengadilan.

Rekan lama Wong, Agnes Chow (23) dan Ivan Lam (26), masing-masing dipenjara selama 10 bulan dan tujuh bulan. Mereka juga dihukum atas tuduhan terkait dengan perkara yang sama dalam demo Hong Kong tahun lalu.

Chow—yang menangis di dalam ruang sidang saat mendengar hukuman tersebut—mengaku bersalah atas penghasutan dan partisipasinya dalam aksi unjuk rasa yang melanggar hukum. Sementara, Lam mengaku bersalah atas penghasutan.

Di bawah perjanjian penyerahan Hong Kong dari Inggris ke China pada 1997, Beijing berjanji untuk mempertahankan kebebasan di kota itu di bawah payung “Satu Negara, Dua Sistem”. Akan tetapi, beberapa pihak khawatir janji itu bakal diingkari China. Kekhawatiran itu semakin terbukti ketika pihak berwenang China memperketat cengkeraman mereka terhadap Hong Kong.

Senator AS Marsha Blackburn menuduh China telah mencederai hak asasi manusia dan menghancurkan tatanan otonomi di Hong Kong. “Jangan patah semangat, Joshua. Kamu benar-benar menjadi inspirasi bagi pejuang kemerdekaan di mana pun,” kata Blackburn dalam sebuah pernyataan dikutip Reuters, Rabu (2/12/2020).

Para aktivis demokrasi mengatakan, China dengan cepat mengurangi kebebasan di Hong Kong, terutama setelah pemberlakuan Undang-Undang Keamanan Nasional pada 30 Juni lalu. Kehadiran UU tersebut dianggap sebagai pukulan terbaru bagi kebebasan kota yang selama beberapa dekade menyandang status sebagai pusat keuangan global itu.

Namun, pihak berwenang di Beijing dan Hong Kong menyangkal tudingan itu. Menurut mereka, undang-undang itu justru penting untuk menutup celah dalam pertahanan keamanan nasional di Hong Kong.

Editor : Ahmad Islamy Jamil