Kabar Mantan Presiden Yaman Tewas dalam Pertempuran Disangkal
DUBAI, iNews.id – Stasiun radio yang dikelola kelompok Houthi mengklaim serangan mereka di ibu kota Sanaa berhasil menewaskan mantan presiden Ali Abdullah Saleh.
Laporan itu juga menyebut bahwa dalam waktu dekat mereka akan menunjukkan jasad Abdullah Saleh. Di jejaring media sosial memang telah beredar foto-foto jasad yang diduga Abdullah Saleh, namun belum dipastikan kebenarannya.
Sementara itu partai Abdullah Saleh membantah atasan mereka tewas dalam serangan Houthi di Sanaa. Menurut mereka, Abdullah Saleh masih bertempur bersama mereka melawan milisi Houthi yang dibantu Iran.
Keberadaannya masih disembunyikan. Abdullah Saleh belum muncul sejak kabar kematiannya beredar cepat.
Belum ada satu pun laporan independen yang mengungkap bagaimana nasib mantan presiden yang didukung oleh koalisi Arab itu, dikutip dari Reuters, Senin (04/12/2017).
Pertempuran 6 Hari Tewaskan 125 Orang
Sementara itu pertempuran antara pasukan pro-Abdullah Saleh dengan Houthi di Sanaa semakin meningkat pada enam hari terakhir. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyebut jumlah korban mencapai 125 orang dan 238 lainnya menderita luka.
Para korban kebanyakan adalah warga yang terperangkap di rumah-rumah. Para korban sulit mendapatkan pengobatan karena kesulitan menjangkau rumah sakit.
ICRC sejauh ini menyuplai obat-obatan ke tiga rumah sakit di Sanaa, yakni Al Thawra, Al Jumhouri, dan Al Kuwait, namun persediannya sudah menipis.
"Menurut rumah sakit yang bisa kami hubungi, pertempuran telah menewaskan 125 orang dan melukai 238 lainnya," kata juru bicara ICRC, Iolanda Jaquemet.
Karena pertempuran masih sengit, ICRC belum bisa menjangkau gudang obat-obatan di Sanaa. Namun dia memastikan bahwa semua perlengkapan tidak rusak.
Pihaknya juga akan mengirim kantong jenazah ke rumah sakit ditambah peralatan lainnya.
"Kami berharap bisa mengirim bahan bakar ke rumah sakit utama karena mereka mengandalkan generator. Stok bahan bakar sudah menipis saat ini, di saat jumlah korban semakin meningkat," kata Jaquement.
Rumah sakit membutuhkan listrik untuk operasi dan mendinginkan obat serta vaksin. Saat ini ada 425 staf ICRC di Yaman. MEreka disebar ke berbagai kota seperti Hodeida, Saada, Taiz, dan Aden.
Editor: Anton Suhartono