Kaleidoskop 2024: Pilpres AS yang Penuh Drama
2. Percobaan Pembunuhan Trump
Publik AS pada 13 Juli dikejutkan dengan percobaan pembunuhan terhadap Trump di Butler, Pennsylvania. Saat itu dia sedang menyampaikan pidato dalam kampanye pilpres.
Peluru melesat mengenai daun telinga kananya setelah dia menengok ke arah kiri. Menurut saksi, Trump baru memulai pidatonya sekitar 6 menit di atas podium. Dia sempat ambruk ke arah belakang podium.
Motif percobaan pembunuhuan itu bisa dibilang masih samar-samar. Pelaku ditembak mati oleh agen Dinas Rahasia setelah melepaskan beberapa tembakan ke arah Trump.
Sejak itu sejumlah anggota parlemen Partai Republik menyalahkan Biden atas penembakan Trump. Mereka mengklaim retorika kampanye Biden mengarah pada percobaan pembunuhan terhadap Trump.
Setidaknya 11 politisi Partai Republik menuding Biden dan Partai Demokrat melakukan penghasutan yang memicu percobaan pembunuhan Trump.
Banyak dari mereka yang merujuk pada komentar Biden saat melakukan panggilan telepon pribadi dengan para donor Demokrat, beberapa hari sebelumnya. Menurut Politico, Biden mengatakan dalam panggilan telepon tersebut bahwa tugasnya adalah mengalahkan Trump di Pilpres AS 2024.
“Saya sangat yakin bahwa saya adalah orang terbaik yang bisa melakukan itu. Jadi, kita sudah selesai membicarakan perdebatannya. Ini saatnya menempatkan Trump tepat sasaran,” ucap Biden, saat itu.
Tentu Biden dan pemerintahannya membantah retorika itu. Dia mengutuk serangan terhadap Trump serta menyerukan warga untuk mengecam aksi kekerasan tersebut.
Sementara itu beberapa politisi Partai Demokrat meyakini upaya pembunuhan Trump meningkatkan peluangnya untuk terpilih kembali.
NBC News, mengutip beberapa sumber Partai Demorkat, melaporkan pilpres telah berakhir dengan penembakan tersebut.
Seorang sumber mengatakan, sudah waktunya bagi Demokrat untuk fokus saja mempertahankan mayoritas di Senat dan mencoba mengambil alih DPR pada pemilu mendatang. Sebab, peluang calon dari Demokrat untuk memenangkan pertarungan tampaknya makin sulit.
Sumber lain menilai foto-foto Trump berlumur darah di wajahnya serta kepalan tangan ke atas menjadi media kampanye efektif. Foto-foto itu tak akan terlupakan di benak warga AS. Sementara kondisi Partai Demokrat sendiri sedang kacau.
Dukungan bagi Trump silih berganti datang sejak itu, sebut saja orang terkaya di dunia, Elon Musk. Bukan dukungan kosong-kosong, Musk menggolontorkan triliunan rupiah untuk memenangkan Trump dalam pilpres. Dana itu diberikan kepada kelompok-kelompok aksi politik untuk membantu Trump memenangkan beberapa isu kampanyenya.
Bukan hanya di Butler, setelah itu Trump juga lolos dari percobaan pembunuhan di resor golf pribadinya di West Palm Beach, Florida.