Kesulitan Uang, Perempuan ISIS Jual Senapan AK-47 Kado Pernikahan

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 20 Agustus 2020 - 17:34 WIB
Kesulitan Uang, Perempuan ISIS Jual Senapan AK-47 Kado Pernikahan

Senapan AK-47 Kalashnikov (ilustrasi). (Foto: AFP)

BERLIN, iNews.id – Seorang perempuan Jerman yang bergabung dengan ISIS mengalami masa-masa sulit, sehingga terpaksa menjual kado pernikahannya. Namun, hadiah pernikahan itu boleh dibilang tak lazim untuk ukuran masyarakat normal, karena berupa satu pucuk senapan AK-47 (Kalashnikov).

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Kamis (20/8/2020), jaksa federal Jerman menyatakan, mereka telah mendakwa perempuan bernama Zeynep G itu atas tiga dakwaan. Ketiga tuduhan itu adalah berpartisipasi dalam kegiatan organisasi teroris asing; melanggar undang-undang pengendalian senjata, dan; melakukan kejahatan perang, demikian AP melaporkan.

Menurut jaksa, Zeynep yang berkewarganegaraan Jerman itu diduga telah melakukan perjalanan ke Suriah pada September atau Oktober 2014 untuk bergabung dengan kelompok ekstremis. Setelah menikah dengan seorang gerilyawan Chechnya, dia menjalani kehidupan rumah tangganya dan menggunakan media sosial untuk mendesak seorang teman di Jerman agar bergabung dengan ISIS.

Setelah suami pertamanya meninggal, dia menikah dengan sesama anggota ISIS Jerman pada Oktober atau November 2015 dan pindah ke markas kelompok itu di Raqqa, Suriah. Jaksa mengatakan, pasangan itu kemudian menduduki rumah seseorang yang melarikan diri dari ISIS. Tindakan tersebut dianggap sebagai penjarahan di bawah hukum internasional dan dinilai sebagai kejahatan perang.

Jaksa penuntut di Jerman mengungkapkan, perempuan itu lalu meminta senapan Kalashnikov sebagai kado pernikahan dan berlatih menggunakannya. Akan tetapi, setelah beberapa minggu, senapan itu terpaksa dijual Zeynep karena kekurangan uang.

Suami keduanya meninggal pada 2017. Zeynep ditahan oleh gerilyawan Kurdi dua tahun kemudian, tetapi berhasil melarikan diri. Dia lalu ditahan di Turki pada Februari dan ditangkap saat kembali ke Jerman pada Mei. Di Jerman, perempuan itu pun harus menghadapi persidangan.

Editor : Ahmad Islamy Jamil