Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kronologi Lengkap Kopi Eyang Bungkus Kucing dalam Karung dan Buang ke Tong Sampah, Endingnya Minta Maaf!
Advertisement . Scroll to see content

Kisah 2 Saudara Kembar Palestina Sulap Pesawat Bersejarah Israel Jadi Kafe dan Restoran

Kamis, 26 Agustus 2021 - 19:56:00 WIB
Kisah 2 Saudara Kembar Palestina Sulap Pesawat Bersejarah Israel Jadi Kafe dan Restoran
Pesawat yang diubah menjadi restoran dan kafe di dekat Kota Nablus, Palestina. Pemiliknya adalah dua saudara kembar Palestina, Khamis dan Ata al-Sairafi. (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

RAMALLAH, iNews.id – Hari ini, sedikit sekali warga Palestina yang bisa naik pesawat untuk bepergian. Apalagi, sebagai sebuah negara, Palestina sudah tidak punya bandar udara alias bandara. 

Dulu, negara Arab itu pernah punya empat bandara. Tiga di antaranya adalah bandara sipil, sedangkan yang satunya berupa pangkalan udara untuk militer. Namun, semua bandara itu kini sudah tidak berfungsi lagi.

Untuk bisa naik pesawat, orang-orang Palestina yang berkecukupan secara ekonomi harus membeli tiket dan mengambil penerbangan di negara tetangga mereka, Yordania. 

Namun, masyarakat Palestina kini bisa sedikit terhibur. Di luar Kota Nablus, dua saudara kembar, Khamis al-Sairafi dan Ata al-Sairafi menyulap sebuah pesawat usang jenis Boeing 707 menjadi kafe dan restoran. Para pelanggan pun bisa merasakan sensasi naik pesawat sambil menyantap hidangan yang mereka sajikan.

“Sebanyak 99 persen orang Palestina tidak pernah menggunakan pesawat terbang. Hanya para duta besar, diplomat, menteri, dan wali kota kami yang menggunakannya,” kata Khamis al-Sairafi, dikutip Associated Press, Kamis (26/8/2021).

“Sekarang mereka (masyarakat Palestina) bisa melihat pesawat dan bagi mereka itu akan menjadi sesuatu yang berarti,” ucapnya.

Setelah 25 tahun bekerja keras, dua bersaudara itu akhirnya berhasil membuka “Restoran Maskapai Penerbangan Palestina-Yordania dan Kedai Kopi al-Sairafi” itu pada 21 Juli lalu.

Banyak pengunjung dengan keluarga, teman, dan pasangan mereka datang untuk minum di kafe yang terletak di bawah badan pesawat. Sementara, yang lainnya datang untuk berfoto di dalam pesawat dengan tarif 5 shekel (sekitar Rp23.000) per orang.

Para pelanggan mengatakan, mereka tertarik untuk berkunjung setelah melihat foto-foto pesawat yang direnovasi jadi kafe dan restoran itu beredar secara daring. “Sudah lama, saya ingin melihat tempat ini. Saya berharap saya pernah melihat pesawat ini sebelum diubah menjadi kafe,” kata salah satu pengunjung, Majdi Khalid.

Impian si kembar al-Sairafi yang kini berusia 60 tahun itu mengubah pesawat menjadi kafe dan restoran muncul pertama kali pada akhir 1990-an. Kala itu, Khamis melihat pesawat Boeing yang telantar di dekat Kota Safed, Israel Utara.

Pada saat itu, pesawat tersebut sudah menyimpan banyak sejarah. Pesawat itu digunakan oleh Pemerintah Israel dari 1961 hingga 1993. Peswat itu pernah menerbangkan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, ke Amerika Serikat pada 1978 untuk menandatangani perjanjian damai bersejarah Israel dengan Mesir, menurut Channel 12 TV.

Pesawat itu kemudian dibeli oleh tiga mitra bisnis Israel yang bermimpi mengubahnya menjadi sebuah restoran. Akan tetapi, proyek itu batal karena tidak tercapainya kesepakatan dengan pihak berwenang setempat, kata stasiun televisi itu.

Setelah melacak salah satu pemiliknya, Khamis dan Ata setuju untuk membelinya seharga 100.000 dolar AS pada 1999 (sekira Rp 1,44 miliar untuk kurs saat ini). Di luar itu, dua bersaudara itu juga harus merogoh kocek tambahan sebesar 50.000 dolar AS untuk lisensi, perizinan, dan biaya untuk mengangkutnya ke Tepi Barat.

Khamis mengatakan Wali Kota Nablus saat itu, Ghassan Shakaa, dengan cepat menyetujui pemindahan dan renovasi pesawat. Proses pemindahan kala itu memakan waktu 13 jam—yang mencakup pembongkaran sayap pesawat dan penutupan  sementara beberapa jalan di Israel dan Tepi Barat.

Kebetulan pada saat itu hubungan Israel dan Palestina relatif tenang karena sedang ada perundingan damai, sehingga pergerakan antara kedua negara relatif mudah. Khamis dan Ata juga menggunakan sebagian pendapatan mereka untuk membangun taman hiburan—termasuk kolam renang dan tempat konser—di sebidang tanah yang sama tempat pesawat itu ditempatkan.

Sebelum membeli pesawat bekas itu, al-Sairafi bersaudara sudah lebih dulu dikenal sebagai pengusaha dan pedagang besi tua yang sukses. Mereka secara rutin melakukan perjalanan dari dan ke Israel untuk membeli potongan-potongan logam yang kemudian mereka jual dan lebur di Tepi Barat. Mereka juga memiliki bisnis pembuangan limbah yang terbilang berhasil. 

Proyek kafe pesawat mereka sempat tertunda setelah pecahnya pemberontakan rakyat Palestina pada akhir 2000 (Intifadah II). Di tengah suasana perang kala itu, Israel mendirikan sebuah pos pemeriksaan militer Israel di dekat kafe pesawat mereka, sehingga mencegah para pelanggan terdekat Nablus mencapai lokasi itu.

“Mereka (tentara Israel) bahkan membangun tenda di bawah sayap pesawat itu,” kata Ata.

Selama hampir 20 tahun, pesawat dan lokasi itu ditinggalkan begitu saja. Setelah pemberontakan mereda pada pertengahan 2000-an, dua bersaudara itu melanjutkan bisnis pembuangan limbah mereka dan taman hiburan kecil di Nablus yang mereka buka pada 2007.

Setelah lebih dari satu dekade menabung, mereka memutuskan pada tahun lalu untuk mulai membangun kembali kafe pesawat. Proses dimulai dari renovasi burung besi itu. Namun, krisis pandemi virus corona menyebabkan pukulan yang keras bagi ekonomi Palestina. Proyek mereka kembali terhenti.

Setelah berbulan-bulan bekerja, pesawat itu hampir siap untuk memberikan layanan penuh bagi pengunjung. Interiornya baru saja dicat. Kafe dan restoran telah dilengkapi dengan listrik dan sembilan meja. Pintu-pintunya terhubung ke dua jalur yang memungkinkan pelanggan untuk naik dengan aman. 

Hidung pesawat dicat dengan warna bendera Palestina, sedangkan ekornya diberi warna bendera Yordania.

Untuk kafe, layanannya sudah dibuka sejak Juli. Sementara, untuk restorannya diharapkan bisa dibuka bulan depan. Al-Sairafi juga berencana memasang dapur di bawah badan pesawat untuk menyajikan makanan kepada pelanggan di dalamnya.

Sayangnya, rencana jangka panjang mereka untuk membangun kembali taman hiburan dan kolam renang di lokasi kafe pesawat itu masih jauh dari yang diimpikan. Khamis dan Ata mengaku kecewa karena tidak menerima dukungan keuangan dari Pemerintah Kota Nablus. Kini, mereka sedang mencari investor.

'”Insya Allah, saya berharap proyek (taman hiburan) ini berhasil dan menjadi yang terbaik,” ucap Ata.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut