Kisah Amancio Ortega, Mantan Pegawai Toko Kini Jadi Raja Properti dan Pemilik Zara
CORUNA, iNews.id - Amancio Ortega dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan Zara, salah satu merek fesyen terbesar di dunia. Namun, kekayaan pengusaha asal Spanyol itu ternyata tidak hanya berasal dari bisnis pakaian.
Kekayaan Ortega tercatat sebesar 145,4 miliar dolar AS atau setara Rp2.638 triliun (kurs Rp18.146 per dolar AS). Dia menempati urutan ke-11 orang terkaya di dunia versi Forbes.
Di usianya yang menginjak 90 tahun, Ortega justru dikenal sebagai salah satu investor properti terbesar di dunia. Dia membangun portofolio real estate yang nilainya diperkirakan mencapai 25 miliar dolar AS atau setara Rp453 triliun.
Melansir Forbes, portofolio properti Ortega mencakup lebih dari 200 aset di 13 negara. Aset tersebut terdiri atas gedung perkantoran, hotel, kawasan industri, pusat perbelanjaan, hingga apartemen.
Sejak 2001, Ortega diperkirakan telah menggelontorkan sekitar 24 miliar dolar AS untuk membeli 216 properti di hampir 100 pasar. Menariknya, dia mempertahankan sebagian besar aset tersebut dan hanya melepas sekitar 10 properti.
Salah satu transaksi terbesarnya adalah pembelian Royal Bank Plaza di Toronto, Kanada, senilai sekitar 916 juta dolar AS pada 2022. Dia juga membeli gedung Canada Post di Vancouver pada 2025 dengan nilai sekitar 855 juta dolar AS.
Sejumlah properti miliknya bahkan disewa oleh perusahaan-perusahaan besar dunia, seperti Amazon, Apple, Meta, Nike, dan Spotify. Selain itu, Ortega juga memiliki gudang logistik yang disewakan kepada perusahaan seperti FedEx, Home Depot, dan Walmart.
Strategi investasi Ortega tidak dibangun dalam waktu singkat. Dia mulai serius mengembangkan bisnis properti pada 2001, bertepatan dengan penawaran saham perdana atau IPO perusahaan induk Zara, Inditex, di bursa saham Madrid.
Dari hasil penjualan sebagian saham Inditex, Ortega memperoleh sekitar 1,1 miliar dolar AS. Tidak lama kemudian, dia mendirikan perusahaan investasi keluarga bernama Pontegadea yang menjadi kendaraan utama untuk mengelola dan mengembangkan asetnya.
Modal investasi tersebut terus bertambah berkat dividen yang diterimanya dari Inditex. Forbes memperkirakan Ortega telah memperoleh sekitar 28 miliar dolar AS dalam bentuk dividen bersih sejak perusahaan itu melantai di bursa pada 2001.
Alih-alih hanya menyimpan uang atau membelanjakannya, Ortega memilih menginvestasikan kembali sebagian dividen tersebut ke properti dan berbagai sektor lain. Strateginya berfokus pada aset berkualitas tinggi di lokasi strategis yang berpotensi menghasilkan pendapatan sewa dalam jangka panjang.
Ortega juga cenderung membeli properti menggunakan uang tunai dan menghindari penggunaan utang dalam jumlah besar. Pendekatan ini membuat perusahaan investasinya memiliki tingkat kewajiban yang relatif rendah dibandingkan total aset.
Perjalanan Ortega membangun kekayaan tidak dimulai dari kehidupan bergelimang harta. Dia merupakan putra seorang pekerja kereta api dan mulai bekerja di toko pakaian ketika berusia 14 tahun.
Pada 1960-an, Ortega bersama istri pertamanya, Rosalía Mera, mulai memproduksi pakaian dari rumah mereka. Keduanya kemudian mendirikan Zara pada 1975, sebelum membangun Inditex pada 1985.
Bisnis tersebut berkembang menjadi salah satu grup ritel fesyen terbesar di dunia. Selain Zara, Inditex juga menaungi sejumlah merek lain, seperti Pull&Bear, Massimo Dutti, Bershka, dan Stradivarius.
Keberhasilan bisnis fesyen itu kemudian menjadi fondasi bagi Ortega untuk memperluas investasinya ke sektor properti, energi, hingga infrastruktur. Kini, dia tidak hanya dikenal sebagai pendiri Zara, tetapi juga sebagai salah satu pemilik portofolio properti terbesar di dunia.
Editor: Aditya Pratama