Kisah Korban Selamat Penembakan Tentara Thailand di Mal, Lolos dari Maut karena CCTV

Anton Suhartono ยท Senin, 10 Februari 2020 - 08:31 WIB
Kisah Korban Selamat Penembakan Tentara Thailand di Mal, Lolos dari Maut karena CCTV

Pengunjung mal Terminal 21 Thailand berlarian menyelamatkan diri saat terjadi penembakan oleh tentara Jakrapanth Thomma (Foto: AFP)

NAKHON RATCHASIMA, iNews.id - Jumlah korban tewas dalam drama penembakan di mal Terminal 21 serta lokasi lain di Nakon Ratchasima, Thailand, pada Sabtu dan Minggu (8-9/2/2020) bertambah menjadi 29 orang.

Pelaku, tentara bernama Jakrapanth Thomma, juga tewas ditembak oleh petugas sehingga jumlah korban tewas keseluruhan 30 orang.

Seorang saksi Chanathip Somsakul mengisahkan, dia bersama puluhan pengunjung lainnya yang sempat terjebak di mal pada Sabtu malam bisa selamat karena mendapat kabar mengenai pergerakan pelaku.

Seseorang yang berada di ruang kendali CCTV memberi mereka kabar melalui aplikasi layanan pesan singkat setiap saat mengenai pergerakan Jakrapanth. Dari situlah mereka bisa menghindari lokasi-lokasi bahaya.

"Seorang teman yang bekerja di mal berbicara dengan pria di ruang kendali CCTV. Dia memberi kami informasi terbaru tentang lokasi pria bersenjata itu," kata Chanathip, dikutip dari AFP, Senin (10/2/2020).

Mulanya, pria yang bekerja sebagai guru les musik itu bersembunyi bersama keluarga serta sekitar 30 pengunjung lainnya di toilet perempuan lantai 4 mal Terminal 21.

Meski demikian, Chanatip mengatakan bahwa pesan mengenai posisi pelaku belum cukup untuk meredam rasa takutnya akan peristiwa ini.

Jakrapanth menembak membabi buta tanpa pandang bulu, bahkan terhadap anak-anak. Di antara korban tewas merupakan anak berusia 13 tahun. Senjata yang dia gunakan tergoling senapan mesin berat yakni M60.

Sebagian pengunjung ada yang bersembunyi di lemari, gudang, dan tempat tertutup lainnya.

"Semua orang ketakutan dan tersesat. Ada begitu banyak informasi beredar, orang tidak yakin harus percaya pada siapa," ujarnya.

Dia menambahkan, selama berjam-jam Jakrapanth bergerak begitu cepat menelusuri setiap lantai mal serta mengamati melalui kaca jendela.

Pergerakan Jakrapanth di dalam mal terlihat jelas di CCTV dan tak ada rasa takut. Bahkan sebelumnya, pria berpangkat sersan mayor berusia 32 tahun itu sempat menyiarkan penyerangan ini secara live di akun Facebook-nya sebelum dihapus oleh perusahaan. Di satu momen, dia bahkan melakukan selfie menunjukkan tak rasa takut sedikit pun dalam dirinya.

Chanathip dan puluhan orang lainnya bisa keluar sekitar pukul 21.00 waktu setempat, dia dan puluhan orang lainnya di dalam toilet mendapat kabar dari polisi untuk segera keluar.

Di saat bersamaan terdengar suara tembakan menyebabkan mereka panik dan berusaha lari secepat mungkin ke halaman parkir.

Namun masih ada puluhan orang lain yang terperangkap, bersembunyi di bilik-bilik toilet, di bawah meja restoran, dan di gerai-gerai pakain, sambil menyimak perkembangan.

Menjelang tengah malam dan dini hari, sebagian besar dari mereka berhasil dibebaskan setelah polisi dari satuan khusus merangsek masuk.

Drama penembakan berakhir pada Minggu pagi setelah polisi menembak mati Jakrapanth di basement mal. Upaya petugas untuk meminta Jakrapanth menyerahkan diri gagal meskipun mereka mendatangkan ibu pelaku ke lokasi untuk membujuknya.

Dalam perkembangan penyelidikan, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan O Cha mengatakan bahwa motif serangan paling berdarah yang dilakukan tentara ini berlatar belakang masalah pribadi, yakni perkait penjualan rumah.

Sementara itu sekitar 40 orang mengalami luka, sembilan di antaranya dalam kondisi kritis dan sudah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru.


Editor : Anton Suhartono