Kisah Pesawat Militer Filipina Berhadapan dengan Kapal Penjaga Pantai China di Laut China Selatan
MANILA, iNews.id - Pesawat militer Filipina berhadapan dengan kapal Penjaga Pantai China saat berpatroli di perairan dekat Beting Panatag (Scarborough) pada 2019.
Perwira senior Angkatan Bersenjata Filipina Nonilon Lawas mengatakan kepada anggota Senat, Rabu (9/12/2020), dia dan empat tentara lainnya menjalankan misi mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran kedaulatan China termasuk aktivitas panen kerang ilegal pada 2019. Meski demikian Lawas tidak memberikan tanggal spesifik.
Kapal Penjaga Pantai China mengawal perahu nelayan yang menangkap kerang secara besar-besaran di wilayah itu.
"Saat melakukan patroli maritim di sepanjang Bajo de Masinloc, kami ditantang sembilan kali oleh Penjaga Pantai China dan dipaksa meninggalkan wilayah kami," katanya, dikutip dari Philippine Daily Inquirer, Kamis (10/12/2020).
Jurnalis Filipina Tewas Ditembak, Pernah Lolos dari Maut karena Pura-Pura Mati
Saat itu pilot Angkatan Udara Filipina menjawab Penjaga Pantai China bahwa mereka sedang melakukan patroli rutin di wilayah perairannya.
Bukti yang dikumpulkan oleh tim Lawas menunjukkan panen besar-besaran kerang raksasa oleh China dan kejadian itu dijadikan bukti dalam protes diplomatik yang diajukan pemerintah Filipina terhadap China pada 2019.
China Akan Kuasai Filipina Terlebih Dulu Jika Perang dengan AS Pecah di Pasifik
Lawas dan empat orang lainnya diganjar penghargaan di bidang intelijen Silver Cross Medal sebagai hasil dari misi tersebut.
Filipina Bangun Armada Laut untuk Tangkal Dominasi China di Laut China Selatan
Beting Panatag merupakan titik perselisihan antara Filipina dan China sejak 2012, ditandai dengan penguasaan China atas perairan itu.
Kasus ini mendorong Filipina mengajukan gugatan arbitrase terhadap China pada 2013 untuk membantah klaim atas wilayah Laut China Selatan yang luas.
Pada Juli 2016, Pengadilan Arbitrase Permanen Den Haag membatalkan klaim berlebihan China.
Editor: Anton Suhartono