Kisah Pilu Perempuan Rohingya Korban Pemerkosaan Militer Myanmar
DHAKA, iNews.id - Diperkirakan sebanyak 48.000 perempuan etnis Rohingya yang mengungsi di Bangladesh dalam kondisi hamil dan akan melahirkan tahun ini.
Sebagian besar perempuan itu merupakan korban pemerkosaan militer Myanmar sejak pecahnya aksi kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Agustus 2017.
Masalahnya, banyak perempuan yang menyembunyikan kehamilan mereka karena malu. Umumnya, mereka diperkosa dan hamil sebelum menikah.
Padahal, para perempuan hamil memerlukan penanganan khusus, apalagi setelah melahirkan bayi. Para relawan mengkhawatirkan tingginya angka kematian ibu dan bayi karena mereka tak mendapat penanganan medis saat kehamilan, persalinan, dan setelahnya.
Tosminara, salah seorang pengungsi yang ikut membantu membujuk para perempuan hamil, mengatakan, selama berbulan-bulan dia berjuang membantu mengangkat moril korban pemerkosaan sehingga bisa keluar dari trauma mendalam.
Dia menjanjikan tidak akan membongkar identitas para korban. Berbagai cara dilakukan untuk menyembunyikan kehamilan para perempuan itu, termasuk saat diperiksa di rumah sakit atau klinik.
"Kami memberi mereka kata sandi, mereka akan menggunakannya saat ke rumah sakit atau pos kesehatan. Petugas lalu membawa perempuan itu tempat tertentu. Mereka sangat malu. Terkadang mereka takut untuk maju," kata Tosminara, dikutip dari AFP, Kamis (17/5/2018).
Wakil Sekjen PBB untuk urusan HAM Andrew Gilmour mengatakan, para korban pemerkosaan itu akan melahirkan pada tahun ini atau sembilan bulan setelah aksi kekerasan militer Myanmar yang terjadi pada Agustus atau September 2017. PBB memang belum memiliki data perkiraan jumlah pengungsi Rohingya yang hamil.
Namun Medecins Sans Frontieres memperkirakan ada 48.000 perempuan hamil yang akan melahirkan tahun ini. Sebagian besar masih menyembunyikan kehamilan mereka dari publik.
Mereka tinggal di gubuk beralas bambu dengan sanitasi yang tidak memenusi syarat untuk melahirkan apalagi membesarkan bayi.
Salah satu pemimpin komunitas Rohingya, Abdurrahim, mengatakan, pemerkosaan oleh militer Myanmar merupakan fakta dan dia megetahui ada dua perempuan yang menjadi korban. Dia juga mendengar informasi ada banyak lagi perempuan lain yang menjadi korban pemerkosaan.
"Militer Myanmar memerkosa mereka. Bayi-bayi itu merupakan bukti kejahatan mereka," ujarnya.
Editor: Anton Suhartono