Kisah Pria Autis Tak Bisa Baca sampai Usia 18 Tahun kini Jadi Profesor Universitas Cambridge
Teman dekat sekaligus mentor kampus, Sandro Sandi, selalu mendorongnya untuk mengejar karier.
"Dia selalu percaya pada saya," ujarnya.
Setelah lulus, Arday bekerja sebagai guru pendidikan jasmani. Pekerjaan itu memberi pelajaran berharga baginya.
“Menjadi guru sekolah memberi saya pemahaman langsung tentang ketidaksetaraan sistemik yang dihadapi anak-anak muda dari kelompok minoritas dalam pendidikan,” ujarnya.
Arday mengenang pengalaman masa lalunya dan bagaimana bisa diterima di masyarakat. Profesor sosiologi itu mengenang permah ditolak di lingkungan saat pertama kali mulai menulis untuk akademis.
"Ketika saya mulai menulis makalah akademis, saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya tidak punya mentor dan tidak ada yang pernah menunjukkan cara menulis. Semua yang saya kirim ditolak dengan tegas. Proses peer review sangat kejam, tapi saya menganggapnya sebagai pengalaman belajar dan anehnya mulai menikmatinya," kata Arday.