Kisah Pria Jepang Kehilangan Dompet Berisi Uang Senilai Rp360 Juta di Kereta

Anton Suhartono ยท Kamis, 19 September 2019 - 13:37 WIB
Kisah Pria Jepang Kehilangan Dompet Berisi Uang Senilai Rp360 Juta di Kereta

(Ilustrasi, Foto: AFP)

TOKYO, iNews.id - Jepang dikenal dengan warganya yang tertib, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab. Namun manusia tetap punya kelemahan, termasuk di Negeri Sakura, seperti dalam kisah ini.

Dilaporkan SoraNews 24, seorang pria yang tak disebutkan identitasnya kehilangan dompet berisi uang 2,8 juta yen atau sekitar Rp360 juta di kereta JR Yamanote di Tokyo pada awal September 2019.

Pria itu tak menyadari dompet tebalnya jatuh saat dia berada di kereta. Dia pun tak menyadari dompetnya hilang sampai beberapa waktu setelah turun dari kereta.

Setelah sampai di tempat kerja, pria itu baru sadar dompetnya tak ada di kantong. Dia pun curiga benda tersebut jatuh di kereta dan segera menghubungi operator JR Yamanote.

Beruntung baginya, seorang petugas menemukan dompet itu saat dia membersihkan kereta di depo Ikebukuro. Pria 64 tahun yang belakangan diketahui bernama Hajime Ogura itu menyerahkan dompet ke staf.

Namun kebahagiaan pria itu tak berlangsung lama. Saat mendatangi kantor operator untuk mengambil uang, dia kaget bukan kepalang karena uang pecahan 10.000 yen sebanyak 280 lembar tak ada di dalamnya. Kasus kehilangan duit itu pun dilaporkan ke perusahaan operator dan petugas melakukan penyelidikan.

Ogura tak bisa berkutik setelah dia diperlihatkan hasil rekaman CCTV. Rupanya aksinya saat mengambil dompet dan menilep uang ratusan juta itu terekam dan disimpan dalam file.

Kepada polisi Ogura mengakui telah mengambil uang. Dia berencana menggunakannya untuk menambah biaya hidup serta melunasi utang-utangnya.

Bagi pemilik, kasus ini menjadi pelajaran berharga baginya. Memang, banyak orang Jepang membawa uang tunai karena penggunaan duit digital tak begitu populer, termasuk transaksi menggunakan kartu kredit.

Rupanya pria berusia 30 tahunan itu kerap membawa uang tunai dalam jumlah besar di dompetnya. Dia menggunakan uang itu untuk membayar upah bagi pekerja kerja paruh waktu di tempat usahanya di Tokyo. Upah kerja paruh waktu biasa dibayar tunai setiap pekan, tidak melalui transfer rekening.

Dari kejadian ini dia patur mempertimbangkan kembali menggunakan dompet untuk menampung uang sebanyak itu. Sebenarnya dia bisa menggunakan amplop atau benda lain yang tak begitu menyita perhatian orang.


Editor : Anton Suhartono