Komandan Militer AS di Irak Kisahkan Dahsyatnya Serangan Rudal Iran

Anton Suhartono ยท Selasa, 14 Januari 2020 - 08:07 WIB
Komandan Militer AS di Irak Kisahkan Dahsyatnya Serangan Rudal Iran

Foto satelit menunjukkan kondisi pangkalan militer Ain Al Asad setelah dihujani rudal Iran (Foto: AFP)

BAGHDAD, iNews.id - Komandan pasukan Amerika Serikat (AS) di Irak, Tim Barland, mengisahkan saat markasnya di pangkalan militer Ain Al Asad dihujani belasan rudal Iran pada 8 Januari 2020 dini hari.

Serangan Iran itu merupakan pembalasan atas pembunuhan komandan pasukan elite Quds, Qasem Soleimani, dalam serangan drone AS di Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari.

Garland menyebut serangan itu belum pernah terjadi sebelumnya di pangkalan militer Irak mana pun dan tidak percaya Iran nekat melakukannya.

Dalam wawancara dengan AFP, Garland mengatakan, atasannya telah memberi tahu sejak beberapa jam sebelum serangan bahwa Iran akan menyerang.

"Reaksi pertama saya adalah kaget, pada awalnya tidak percaya," katanya, dikutip dari AFP, Selasa (14/1/2020).

Kekagetan itu, lanjut Garland, dilandasai bahwa dia tak yakin dengan kemampuan militer Iran. Diketahui rudal ditembakkan dari wilayah Iran sampai ke Irak.

Tak hanya itu, Garland juga tak menyangka Iran nekat melakukannya langsung ke jantung pertahanan AS di Irak.

Pangkalan Ain Al Asad adalah salah satu yang terbesar di Irak, menampung sekitar 1.500 tentara AS.

Dia melanjutkan, pukul 23.00 pasukan AS dan koalisi telah dievakuasi dari barak dan kantor untuk bersembunyi di bunker yang tersebar di pangkalan. Mereka sempat menunggu di bunker dalam kondisi tegang selama 2 jam.

Benar saja, lepas dari 2 jam, suara ledakan pertama terdengar sangat keras.

"Ketika serangan pertama terjadi, itu merupakan suara paling keras, paling kuat, yang pernah saya dengar," kata Garland.

Dia bisa merasakan kekuatan rudal meskipun berada di bunker yang terlindung sangat kuat jauh di dalam tanah.

"Ada sesuatu yang tidak wajar di udara. Cara rudal itu bergerak, panasnya, dan gelombang kejut yang datang," tuturnya.

Guncangannya juga mendobrak pintu yang tertutup berkali-kali.

Dia melanjutkan, serangan pertama terjadi pada pukul 01.35 dan berlangsung sampai 3 jam berikutnya. Ada lima kali serangan di mana setiap serangan melibatkan beberapa rudal.

Meski demikian, Garland mengaku sudah terbiasa dengan adanya ledakan di Irak. Setelah beberapa kali ledakan, dia sudah bisa menenangkan diri.

Serangan berhenti sekitar pukul 04.00, komandan dan tentara lalu keluar dari bunker dan mendapati pangkalan dalam luluh lantak. Ada belasan titik yang dihantam rudal, namun ajaibnya tidak ada korban.

Dua tentara yang berjagadi menara sempat terlempar keluar dan mengalami gegar otak.

"Bagaimana mereka bisa selamat, ini merupakan mukjizat Tuhan," kata Garland.

Menurut dia, Iran tampaknya sengaja menjeda antara satu serangan dan tembakan lainnya dalam waktu agak lama agar orang di pangkalan mengira serangan telah berakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa serangan itu ditujukan untuk membunuh tentara AS.

Namun tentara AS dan koalisi memilih tetap bertahan di bunker dan baru keluar sampai benar-benar memastikan bahwa mimpi buruk telah berakhir.

Sementara itu Komandan Korps Garda Revolusi Iran Hossein Salami mengatakan pada Minggu (12/1/2020) bahwa rudal yang ditembakkan saat itu bukan untuk membunuh tentara AS.


Editor : Anton Suhartono