Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Mengenal Perjanjian Nuklir AS-Rusia New START yang Sudah Tak Berlaku
Advertisement . Scroll to see content

Korsel Lepaskan Lagi 7,23 Juta Barel Minyak Cadangan, Imbas Perang Rusia-Ukraina

Jumat, 08 April 2022 - 16:14:00 WIB
Korsel Lepaskan Lagi 7,23 Juta Barel Minyak Cadangan, Imbas Perang Rusia-Ukraina
Ilustrasi pipa berisi minyak mentah. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

SEOUL, iNews.idKorea Selatan kembali melepaskan 7,23 juta barel minyak dari cadangannya demi menekan dampak negatif dari operasi militer Rusia di Ukraina pada harga energi. Hal itu diungkapkan oleh Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, Jumat (8/4/2022).

Pekan lalu, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) setuju untuk melepaskan 120 juta barel minyak. Pada Sabtu (2/4/2022) lalu, Korsel pun telah mengumumkan pelepasan 4,42 juta barel minyaknya.

“Keputusan itu bertujuan untuk mencari stabilitas di pasar energi baik di dalam maupun di luar negeri sehingga dapat mengurangi beban rakyat dan ekonomi kami di tengah krisis Ukraina yang berkepanjangan dan melonjaknya harga energi,” ungkap Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korsel dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Yonhap, hari ini.

Menurut catatan kementerian itu, pelepasan 7,23 juta barel kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah Korsel. Negeri ginseng pun kini menjadi penyumbang cadangan minyak terbesar ketiga di kalangan anggota IEA, di tengah krisis Ukraina.

Menurut perkiraan, cadangan minyak yang tersisa milik Korsel akan bertahan lebih dari 90 hari tanpa impor minyak.

Harga minyak mentah Dubai, yang jadi patokan Seoul, naik menjadi 103,79 dolar AS per barel pada Rabu. Nilai itu melonjak signifikan jika dibandingkan dengan harga pada akhir tahun lalu, yaitu sebesar 77,12 dolar AS per barel.

Sementara itu, indeks harga konsumen (IHK) di Korea Selatan naik lebih dari 4,1 persen tahun ke tahun (yoy) pada Maret lalu. Angka tersebut menjadi inflasi tertinggi di negara Asia Timur itu sejak Desember 2011.

Rusia menghadapi sanksi keras yang dijatuhkan negara-negara Barat atas keputusan Moskow meluncurkan operasi militer di Ukraina sejak 24 Februari lalu. Salah satu bentuk sanksi itu adalah boikot terhadap produk minyak Rusia.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut