SEOUL, iNews.id – Korea Selatan kembali melepaskan 7,23 juta barel minyak dari cadangannya demi menekan dampak negatif dari operasi militer Rusia di Ukraina pada harga energi. Hal itu diungkapkan oleh Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, Jumat (8/4/2022).
Pekan lalu, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) setuju untuk melepaskan 120 juta barel minyak. Pada Sabtu (2/4/2022) lalu, Korsel pun telah mengumumkan pelepasan 4,42 juta barel minyaknya.
4 Jenderal Rusia yang Jadi Target dalam 15 Bulan Terakhir
“Keputusan itu bertujuan untuk mencari stabilitas di pasar energi baik di dalam maupun di luar negeri sehingga dapat mengurangi beban rakyat dan ekonomi kami di tengah krisis Ukraina yang berkepanjangan dan melonjaknya harga energi,” ungkap Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korsel dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Yonhap, hari ini.
Menurut catatan kementerian itu, pelepasan 7,23 juta barel kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah Korsel. Negeri ginseng pun kini menjadi penyumbang cadangan minyak terbesar ketiga di kalangan anggota IEA, di tengah krisis Ukraina.
AS Coba Atur-Atur dan Ancam India: Boleh Beli Minyak Rusia, tapi Jangan Banyak-Banyak!
Menurut perkiraan, cadangan minyak yang tersisa milik Korsel akan bertahan lebih dari 90 hari tanpa impor minyak.
Harga minyak mentah Dubai, yang jadi patokan Seoul, naik menjadi 103,79 dolar AS per barel pada Rabu. Nilai itu melonjak signifikan jika dibandingkan dengan harga pada akhir tahun lalu, yaitu sebesar 77,12 dolar AS per barel.
Jerman Bakal Setop Impor Minyak Rusia, Kremlin Sebut Ada Pasar Baru di Asia Tenggara
Sementara itu, indeks harga konsumen (IHK) di Korea Selatan naik lebih dari 4,1 persen tahun ke tahun (yoy) pada Maret lalu. Angka tersebut menjadi inflasi tertinggi di negara Asia Timur itu sejak Desember 2011.
Rusia menghadapi sanksi keras yang dijatuhkan negara-negara Barat atas keputusan Moskow meluncurkan operasi militer di Ukraina sejak 24 Februari lalu. Salah satu bentuk sanksi itu adalah boikot terhadap produk minyak Rusia.
Editor: Ahmad Islamy Jamil
- Sumatra
- Jawa
- Kalimantan
- Sulawesi
- Papua
- Kepulauan Nusa Tenggara
- Kepulauan Maluku