Mahathir Mohammad Ajukan Mosi Tidak Percaya kepada PM Malaysia Muhyiddin Yasin

Arif Budiwinarto ยท Rabu, 09 September 2020 - 15:26 WIB
Mahathir Mohammad Ajukan Mosi Tidak Percaya kepada PM Malaysia Muhyiddin Yasin

Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohammad. (foto: AFP)

KUALA LUMPUR, iNews.id - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad menuliskan usul mosi tidak percaya kepada PM Malaysia, Muhyiddin Yasin di blog pribadinya. Langkah itu diambil setelah gagal membawa usulan itu ke parlemen.

Dikutip dari Free Malaysia Today, Rabu (9/9/2020), Mahathir mengatakan keputusannya menulis mosi tidak percaya pada PM Muhyiddin di blog-nya karena pemerintah menganaktirikan usulannya. Ini terlihat dari keputusan parlemen menempatkan usulannya di daftar terbawah agenda sebanyak dua kali.

"Dengan cara ini sampai kapanpun usul saya tidak akan dibahas oleh dewas. Oleh karena itu, tidak memungkinkan mengemukakan usul lewat parlemen maka saya terpaksa mempublikasikan usul ini dalam blog saya untuk orang banyak," kata Mahathir.

Penunjukkan Muhyiddin sebagai perdana menteri oleh raja pada Februari lalu menyusul pengunduran diri Mahtahir dianggap akan mengikis kepercayaan publik dalam membentuk pemerintahan pilihan melalui pemilihan umum.

"Yang jelas, suara rakyat tidak lagi ada nilainya di Malaysia. Bila lewat pintu belakang, partai yang ditolak rakyat ini bisa menjadi pemerintah," lanjut politikus 95 tahun.

Dalam blog-nya, Mahathir menulis 35 pernyataan di antaranya mengingatkan bahwa dirinya bersama Muhyiddin Yasin telah mendirikan Partai Pribumi Melayu Bersatu (Bersatu) untuk menjatuhkan pemerintahan Najib Rajak.

Selain itu, Mahathir juga menganggap Muhyiddin percaya dengan anggapan koalisi Pakatan Harapan (PH)--yang memenangkan Bersatu di pemilu ke-14--telah dikuasai oleh Partai Aksi Demokrasi (DAP) yang akan menghancurkan oran Melayu sehingga menjatuhkan pemerintahan PH kemudian membentuk pemerintah campuran dengan UMNO.

Sejauh ini, pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi merespons pernyataan Mahathir tersebut.

Editor : Arif Budiwinarto