Makkah dan Madinah Aman dari Serangan Houthi, Malaysia Tetap Minta Warganya Tunda Umrah
Kementerian Luar Negeri Malaysia melaporkan tidak ada warga negaranya yang tewas maupun terluka dalam serangan pada Sabtu (10/10/2026) di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, maupun Bandara Internasional King Fahd di Dammam.
Meski demikian, serangan tersebut menimbulkan korban dari berbagai negara. Sebanyak 13 orang tewas dalam serangan ke Bandara King Khalid. Mereka terdiri atas empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, Sudan, dan India.
Serangan berlanjut sehari kemudian di lokasi yang sama. Insiden tersebut menewaskan satu warga Pakistan dan melukai 11 orang lainnya. Sebagian besar korban dalam rangkaian serangan itu merupakan warga asing.
Rentetan serangan tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan perjalanan udara di Arab Saudi. Pemerintah Malaysia pun mengambil langkah pencegahan dengan meminta warganya menunda perjalanan umrah, meskipun belum ada laporan serangan langsung di Makkah.
Eskalasi ini menjadi tantangan bagi calon jemaah yang telah merencanakan perjalanan ke Tanah Suci. Mereka perlu memperhatikan perkembangan situasi keamanan serta imbauan resmi pemerintah sebelum memutuskan untuk berangkat.
Pemerintah Malaysia belum menyebutkan batas waktu penundaan tersebut dalam keterangan yang dikutip. Karena itu, calon jemaah diimbau terus memantau pengumuman terbaru dari otoritas terkait sebelum melakukan perjalanan.
Editor: Anton Suhartono