Masjid Terbesar Australia Dapat Ancaman, Ada Tulisan Bunuh Muslim
SYDNEY, iNews.id - Masjid terbesar di Australia mendapat ancaman sehari sebelum bulan Ramadan 1447 H. Umat Islam Australia memulai puasa Ramadan pada Kamis (19/2/2026).
Ancaman tersebut ditujukan kepada Masjid Lakemba, Sydney, dan kini dalam penyelidikan kepolisian Australia.
Media lokal melaporkan, surat yang dikirim ke pengurus masjid berisi gambar babi serta tulisan pembunuhan ras Muslim.
Polisi telah mengambil surat tersebut untuk pengujian forensik. Selain itu petugas dikerahkan untuk berpatroli di tempat-tempat keagamaan, termasuk masjid, serta acara-acara keagamaan.
Presiden Israel Datang ke Australia, Ribuan Demonstran Bentrok dengan Polisi
Ancaman tersebut merupakan yang keempat diterima Masjid Lakemba. Pada bulan lalu, pesan serupa dikirim, berisi gambar umat Islam berada di dalam masjid yang terbakar.
Terkait ancaman itu, polisi menangkap dan mendakwa seorang pria 70 tahun.
Asosiasi Muslim Lebanon, selaku pihak yang mengelola masjid tersebut, menyatakan kepada Australian Broadcasting Corp (ABC), mengirim surat kepada pemerintah Australia guna meminta dana tambahan untuk petugas keamanan dan CCTV.
Diperkirakan sekitar 5.000 umat Islam datang ke masjid tersebut setiap malam Ramadan untuk melaksanakan Salat Tarawih.
Lebih dari 60 persen penduduk di pinggiran kota Lakemba beragama Islam.
Wali Kota Lakemba Bilal El-Hayek dari dewan Canterbury-Bankstown, tempat Lakemba berada, mengatakan warga merasa sangat cemas dengan ancaman-ancaman tersebut.
"Saya mendengar langsung dari banyak orang yang menyampaikan tidak akan mengirim anak-anak untuk salat selama Ramadan ini karena sangat khawatir tentang berbagai hal yang mungkin terjadi di masjid-masjid setempat," ujarnya.
Perdana Menteri Anthony Albanese mengutuk serangkaian ancaman baru-baru ini.
"Sungguh keterlaluan, orang-orang yang hanya menjalankan ibadah, khususnya selama bulan suci Ramadan, menjadi sasaran intimidasi semacam ini," katanya, kepada radio ABC.
Sentimen anti-Muslim meningkat di Australia sejak perang di Gaza pada 7 Oktober 2023.
Editor: Reza Fajri