Masjidil Haram Gelar Salat Gaib bagi Korban Penembakan Selandia Baru

Anton Suhartono ยท Minggu, 24 Maret 2019 - 16:07 WIB
Masjidil Haram Gelar Salat Gaib bagi Korban Penembakan Selandia Baru

Umat Islam di Saudi juga menggelar Salat Gaib bagi para korban penembakan di Selandia Baru (Ilustrasi, Foto: AFP)

MAKKAH, iNews.id - Umat Islam dari penjuru dunia yang sedang melaksanaka ibadah umrah serta warga Arab Saudi lainnya melaksanakan Salat Gaib bagi para korban penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Dilaporkan kantor berita Saudi Press Agency (SPA), Salat Gaib digelar di Masjidil Haram, Makkah, usai Salat Jumat pada 22 Maret 2019. Seikh Maher Al Meaiqli memimpin ribuan puluhan ribu jamaah dalam Salat Gaib tersebut.

Salat juga digelar di Masjid Nabawi, Madinah, dipimpin Seikh Abdullah Al Beajian.

Saat memimpin doa, kedua imam meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni para korban serangan teroris dan menerima mereka sebagai syuhada.

Mereka juga berdoa agar keluarga dan kerabat para korban diberikan kesabaran. Selain itu mereka yang mengalami luka dalam serangan brutal tersebut segera diangkat penderitaannya.

Pada Jumat lalu di Christchurch, Salat Jumat pertama pascapenembakan diikuti ribuan umat Islam, tak hanya dari Christchurch, tapi berbagai negara.

Salat tak digelar di Masjid An Nur, melainkan di lapangan Hagley Park, di depan masjid.

Salat Jumat juga dihadiri kalangan nonmuslim, termasuk Perdana Menteri Jacinda Ardern. Mereka mendengarkan khotbah yang disampaikan Gamal Fouda, khatib yang sama saat penembakan pada pekan lalu.

Fouda menyampaikan khotbah menyentuh mengenai hikmah di balik peristiwa ini. Dia juga menghibur menyebut bahwa para korban tewas merupakan syuhada.

"Hari ini, dari tempat yang sama, saya melihat keluar dan melihat cinta dan kasih sayang di mata ribuan sesama warga Selandia Baru serta masyarakat lainnya dari seluruh dunia, yang memenuhi hati jutaan lebih yang tidak bersama kami secara fisik, tetapi memiliki semangat yang sama."

"Teroris ini berusaha untuk menghancurkan bangsa kita dengan ideologi jahat yang telah menghancurkan dunia. Tetapi sebaliknya, kami telah menunjukkan bahwa Selandia Baru tidak bisa dipecahkan dan bahwa dunia dapat melihat dalam diri kita sebuah contoh cinta dan persatuan," kata dia, lagi.

Menurut dia, jamaah yang meninggal menyandang gelar mati syahid. Mereka tewas di hari, tempat, dan saat melakukan aktivitas yang baik.


Editor : Anton Suhartono