Masuk Tanpa Izin ke Hutan Suci, Pria Nigeria Syuting Adegan Film Porno

Arif Budiwinarto ยท Selasa, 15 September 2020 - 12:18 WIB
Masuk Tanpa Izin ke Hutan Suci, Pria Nigeria Syuting Adegan Film Porno

Patung-patung di dalam hutan suci Osun Osogbo. Baru-baru ini seorang pria Nigeria ditangkap polisi karena merekam film porno di hutan itu. (foto: BBC)

OSUN OSOGBO, iNews.id - Seorang pria pembuat film ditangkap setelah ketahuan merekam adegan film porno di hutan suci Osun Osogbo di barat Nigeria. Dia terancam hukuman negara serta adat. 

Pria bernama Tabiloba Jolaosho yang dikenal sebagai Raja Tblak HOC ditangkap pada akhir pekan kemarin karena aktivitas yang menodai kesucian hutan Osun Osogbo.

Osun Osogbo merupakan hutan suci, rumah bagi Osun--dewi kesuburan Yoruba. Lokasi itu ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Non-benda oleh UNESCO pada 2003.

Dalam cuplikan video yang dibagikannya di media sosial, Jolaosho terlihat mengenakan jubah putih yang identik dengan penganut Dewa Osun saat melakukan perekaman adegan seks.

Tidak diketahui secara jelas kapan dan bagaimana dia mendapatkan akses memasuki hutan sakral itu. Faktanya, Hutan Osun Osogbo memiliki banyak pintu masuk dari berbagai arah.

Dikutip dari BBC, Selasa (15/9/2020), produser film itu akan hadir di pengadilan atas dakwaan perilaku yang dapat melanggar kedamaian publik.

Seorang pengikut aliran Dewi Osun, Yemi Elebuibon, mengatakan Jolaosho telah menodai kesucian hutan yang merupakan rumah bagi para peziarah dari penjuru Nigeria untuk berdoa pada dewi kesuburan.

"Para jemaah tradisional yang bertanggung jawab atas hutan akan memutuskan hukuman apa yang akan dijatuhkan kepadanya, setelah polisi menyelesaikan penyeledikian," kata Yemi.

Sampai berita ini diturunkan, pelaku dan kuasa hukumnya belum mengeluarkan pernyataan resmi.

Dewi Osun, menurut mitologi Yoruba, adalah salah satu dari banyak istri Sango, dewa terkuat dalam cerita rakyat Yoruba.

Setiap tahun, ribuan menghadiri festival Osun Osogbo yang telah berusia 600 tahun. Festival yang berlangsung selama dua minggu ini dianggap sebagai acara keagamaan tradisional tahunan terbesar.

Editor : Arif Budiwinarto