Meghan Markle Dianggap 'Musuh' oleh Media dan Tabloid Inggris, Kenapa?

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 01 Agustus 2019 - 14:15 WIB
Meghan Markle Dianggap 'Musuh' oleh Media dan Tabloid Inggris, Kenapa?

Meghan Markle. (FOTO: Marty MELVILLE / POOL / AFP)

LONDON, iNews.id - Pada 6 Juli 2019, Archie Harrison, anak Pangeran Harry dan Meghan Markle, dibaptis di gereja dekat Windsor Castle. Pembaptisan ini dilakukan secara tertutup, bertentangan dengan tradisi selama ini. Hasilnya, Meghan dikritik keras.

Meghan juga diminta menjadi editor di majalah Vogue edisi September. Dia kembali dihujani kritik. Tabloid Daily Express mengklaim bahwa Ratu Elizabeth akan melihat hal ini sebagai 'keputusan yang sangat bodoh'.

The Sun juga mengkritiknya karena tak memasukkan Ratu Elizabeth sebagai salah satu 'perintis jalan' yang pantas dimasukkan dalam pilihan Meghan untuk Vogue.

Pada 2019, Meghan Markle yang bergelar Duchess of Sussex ini digambarkan sebagai tokoh antagonis oleh tabloid Inggris, dianggap tak mampu menyesuaikan diri menjadi anggota keluarga kerajaan.

Padahal dua tahun lalu keadannya sangat berbeda.

Putri yang sempurna

Pada Musim panas 2017, Meghan Markle merupakan kesayangan media Inggris. Mereka suka pada Meghan karena dia seakan perwujudan dari segala macam perubahan yang terjadi di masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Tampaknya, dunia siap untuk menyambutnya.

Tahun lalu, tabloid di Inggris menulis beberapa hal tentang Meghan, masih dengan nada simpatik.

Mula-mula, ayah Meghan menolak untuk datang ke resepsi pernikahan, dengan alasan resmi karena sakit. Lalu Ratu Elisabeth sempat melarang Meghan memakai tiara yang dia inginkan. Alasan pelarangan karena tiara itu diduga buatan Rusia.

Pelarangan ini bisa dimengerti. Sebab saat itu berita tentang peracunan terhadap bekas agen Rusia Sergey Skripal dan putrinya, Yulia, sedang mendominasi; dan keluarga kerajaan tak ingin ada asosiasi terhadap Rusia di hari penting seperti itu.

Musim panas tahun ini anak pertama Meghan dan Pangeran Harry lahir. Kala itu Meghan sudah menjadi salah satu orang paling sering dikritik oleh tabloid Inggris.

Dia diserang untuk berbagai hal, mulai dari biaya renovasi rumah yang mahal, perilaku di depan umum hingga penggunaan media sosial.

Sasaran ideal

Pada Juni 2019, Meghan-Harry dikritik karena biaya renovasi Frogmore Cottage -rumah mereka di kawasan Kastil Windsor- yang menghabiskan dana 2,4 juta poundsterling atau sekitar Rp41 miliar, yang berasal dari pajak.

Daily Express, mengutip sumber keluarga kerajaan, melaporkan pasangan ini membuang karpet mewah sepekan setelah mereka pindah ke sana karena karpet itu dirusak oleh anjing peliharaan keluarga.

Cincin tunangan pasangan ini juga menimbulkan kontroversi.

Aslinya, cincin itu dirancang oleh Pangeran Harry, terdiri dari tiga berlian: dua dari ibunya, Putri Diana, dan satu lagi dari Botswana, lokasi di mana pasangan itu berlibur untuk pertama kalinya.

Setahun sesudah pernikahan, Meghan merancang ulang cincin itu dengan menambahkan satu berlian lagi. Menurut tabloid ketika itu, tindakan Meghan ini membuat upaya Pangeran Harry jadi tak berarti.

Lalu terjadi pula serangkaian pengunduran diri. Awalnya, asisten pribadi Meghan, Melissa Toubati, mengundurkan diri pada 2018. Lalu bekas asisten pribadi Ratu Elisabeth, Samantha Cohen, juga mengundurkan diri.

Terakhir pada Maret 2019, asisten pribadi yang sejak awal ditugaskan untuk Meghan, Amy Pickerill, juga mengundurkan diri. Tugas utama Pickerill adalah membantu Meghan berintegrasi dengan keluarga kerajaan.

Menurut tabloid Inggris, Meghan dijuluki oleh para asisten sebagai orang yang "harus selalu mendapat yang diinginkan" dan "putri yang susah" karena seringkali berteriak dan mengirim email berisi berbagai permintaan di tengah pagi buta.

Citra ini tidak membaik ketika anak mereka lahir pada Mei 2019. Harry dan Meghan memilih mempublikasi foto anak mereka di Instagram dan ini segera dikritik oleh media, karena foto itu dianggap terlalu bergaya.

Pembaptisan anak yang mereka beri nama Archie Harrison ini juga mendapat kritik karena tertutup dari pers maupun masyarakat umum.

Telegraph sampai menulis surat terbuka untuk Meghan, dan mengatakan ketertutupan itu melukai masyarakat Inggris.

Pasangan itu juga sempat terlihat terlibat dalam "percakapan yang intens", padahal keluarga kerajaan seharusnya tak boleh bertengkar di depan umum.

Mereka juga tak boleh memberi tanda tangan untuk umum, tetapi Meghan melakukannya dengan suka cita.

Koresponden BBC urusan kerajaan, Jonny Dymond, menyatakan tabloid bertanggung jawab dalam menciptakan citra Meghan.

"Kisahnya berawal dari kedatangannya ke Inggris. Mereka butuh kisah itu berlanjut," katanya," seperti dilansir BBC, Kamis (1/8/2019).

Di saat yang sama, sulit mengabaikan rentetan cerita negatif tentang Meghan.

"Kita lihat Meghan penuh tuntutan. Dia senang membelanjakan uang sesuka hatinya. Ini ditampilkan dengan latar belakangnya yang berbeda (sebagai orang Amerika dan artis). Demikianlah citra Meghan yang berkembang saat ini," kata Dymond lagi.

Tak terhindarkan, Meghan kerap dibandingkan dengan iparnya, Kate Middleton, istri Pangeran William.

Tokoh antagonis yang sempurna

Teknik membandingkan antara anggota keluarga kerajaan ini kerap dipakai tabloid untuk menciptakan konflik.

Dari 1960-an hingga 1980-an, Ratu Elizabeth II digambarkan tanpa cela, dan ini dibandingkan dengan adiknya Putri Margaret yang punya kekasih, sering merokok, dan kerap terlihat minum alkohol dan pesta-pesta.

Pada 1980-an, pers sangat suka pada kesederhanaan Putri Diana. Di sisi lain, mereka tak suka dengan Sarah Ferguson yang menikah dengan Pangeran Andrew dan memegang gelar Duchess of York.

Ferguson dirundung oleh media karena berasal dari keluarga biasa. Dia juga dituduh berkelakukan buruk, muncul di depan umum bersama laki-laki lain, dan dikritik karena bertambah berat badan sesudah melahirkan.

Belakangan Ferguson mengaku mengalami depresi sesudah surat kabar mulai menjulukinya "Duchess of Pork" alias "Putri Babi".

Kini perbandingan dilakukan antara pasangan Pangeran Harry dan Meghan Markle melawan Pangeran William dan Kate Middleton.

Kate digambarkan tanpa cela dan "terlahir untuk menjadi ibu" sementara Meghan menjadi tokoh antagonis.

Kabar terakhir, keduanya dipertentangkan lantaran lembaga amal.

Pada Juni, Harry dan Meghan mengumumkan mereka berhenti berpartisipasi di Royal Foundation yang didirikan oleh Pangeran William. Mereka mendirikan lembaga amal sendiri yang fokusnya berbeda.

Perkembangan berikutnya adalah bukan sekadar Meghan lagi, tapi soal pertentangan antara kedua pangeran ini.

"Sebagai bangsa dan warga negara, ketika melihat keluarga kerajaan, kita memproyeksikan apa yang ingin kita lihat tentang diri kita," tutur Dymond.

"Keluarga kerajaan menjadi cermin bagi kita. Mereka berkata banyak tentang diri kita, dan kita adalah bagian dari kisah mereka."


Editor : Nathania Riris Michico