Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Polisi Periksa 24 Saksi untuk Ungkap Kasus Kematian Sutrimo Orang Dekat Eks Jampidsus
Advertisement . Scroll to see content

Melonjak Drastis, Korban Meninggal akibat Corona di Inggris kini Tertinggi Ke-3 di Dunia

Kamis, 30 April 2020 - 07:32:00 WIB
Melonjak Drastis, Korban Meninggal akibat Corona di Inggris kini Tertinggi Ke-3 di Dunia
Jumlah korban meninggal akibat virus corona di Inggris melonjak hingga menempatkan negara itu di posisi ketiga dunia (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.id - Kasus kematian akibat virus corona di Inggris melonjak signifikan. Kini negara tersebut menduduki posisi ketiga di dunia dalam korban meninggal akibat Covid-19.

Berdasarkan data hingga Rabu (29/4/2020), jumlah korban meninggal di Inggris mencapai 26.097 orang setelah ada penambahan 4.419 dalam sehari.

Total angka kematian tersebut menempatkan Inggris di posisi ketiga dunia, di bawah Amerika Serikat dan Italia.

Lonjakan jumlah kematian tersebut terjadi setelah otoritas Inggris memasukkan data korban meninggal di luar rumah sakit, seperti fasilitas medis lebih kecil dan rumah perawatan untuk lanjut usia.

Sebelumnya, Inggris hanya melaporkan kematian orang yang dites positif Covid-19 di rumah sakit. Namun ada keyakinan yang tinggi mengenai tingginya jumlah korban yang tidak dilaporkan di masyarakat.

Pada Selasa, Kantor Statistik Nasional menyatakan, kematian rata-rata yang terdata di Inggris dan Wales hingga 17 April melonjak sekitar dua kali lipat berdasarkan hitungan rata-rata 5 tahun. Ini merupakan kenaikan jumlah kematian pekanan tertinggi sejak 1993.

Menteri Luar Negeri Dominic Raab mengatakan ada tambahan 3.811 kasus kematian terhitung sejak awal Maret.

"Mereka belum mewakili jumlah kematian," katanya, dikutip dari AFP, Kamis (30/4/2020).

Berdasarkan data AFP yang diambil dari sumber resmi, Inggris melompati jumlah korban meninggal di Prancis dan Spanyol.

Sementara itu kasus kematian di Italia mencapai 27.359 dan Amerika Serikat 58.355 orang.

Raab memperingatkan pemerintah belum siap untuk melonggarkan lockdown mengingat kasus infeksi dan kematian masih terbilang tinggi. Selain itu dia mempermasalahkan ancaman gelombang kedua virus corona.

"Ini masalah lonjakan kedua dan ada kebutuhan untuk menghindarinya. Ini bukan risiko teoritis," ujarnya.

Dia mencontohkan Jerman yang sudah lebih dulu melonggarkan lockdown. Setelah sepekan, Jerman mengalami peningkatan penularan lagi.

"Kita berada pada saat sulit dan berbahaya. Kita akan melewati puncak, tapi belum sampai ke sana," tuturnya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut