Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bangun Kesiapsiagaan Tsunami, Negara-Negara di Samudera Hindia Bahas SOP Terintegrasi
Advertisement . Scroll to see content

Mengintip Pulau Hantu yang Dulunya Memukau di Tengah Samudera Hindia

Selasa, 17 Juli 2018 - 07:13:00 WIB
Mengintip Pulau Hantu yang Dulunya Memukau di Tengah Samudera Hindia
Pulau Ross, pulau hantu yang dulunya memukau yang terletak di tengah Samudera Hindia. (Foto: doc. Neelima Vallangi)
Advertisement . Scroll to see content

NEW DELHI, iNews.id - Terletak di Teluk Benggala, Kepulauan Andaman dan Nikobar yang terletak di wilayah India merupakan gugusan pulau tropis yang berjumlah 572 pulau dan hanya 38 di antaranya yang saat ini dihuni.

Lebih dekat ke kawasan Asia Tenggara ketimbang India, kepulauan ini dikenal memiliki pantai yang memukau, kehidupan laut yang menakjubkan, kekayaan terumbu karang, serta hutan primer nan luas yang perawan. Namun di balik panorama indah itu ada masa lalu yang kelam.

Salah satu pulau, Ross, merupakan pulau hantu yang sangat menarik, di mana sisa-sisa pemukiman Inggris abad ke-19 masih tersisa. Ditinggalkan pada 1940-an, pulau ini kemudian dibentuk ulang oleh alam.

Salah satu peninggalan penjajahan Inggris di Pulau Ross. (Foto: doc. Neelima Vallangi)

Bangunan bungalow mewah, gereja berukuran raksasa, ruang pertunjukan, bahkan kuburan, semuanya menjadi usang dan perlahan-lahan tanpa henti diambil alih oleh hutan.

Pada 1857, sebagai reaksi terhadap pemberontakan rakyat India yang sama sekali tak terduga, Kerajaan Inggris memilih pulau-pulau terpencil ini sebagai tempat buangan atau hukuman bagi para pemberontak.

Ketika penjajah Inggris pertama kali tiba pada 1858 dengan membawa 200 orang napi politik asal India, gugusan pulau ini masih berupa hutan belantara purba yang sulit ditembus.

Pulau Ross yang dulu menjadi lokasi tinggal para petinggi kolonial Inggris kini menjadi bagian dari hutan di sekelilingnya. (Foto: doc. Neelima Vallangi)

Pulau Ross berukuran hampir 0,3 kilometer persegi dan pertama kali dipilih sebagai tempat hukuman bagi narapidana karena alasan ketersediaan air yang dianggap cukup. Karena tugas berat dan mematikan untuk membabat hutan yang lebat jatuh pada narapidana, para perwira Inggris memilih tinggal di atas geladak kapal.

Ketika jumlah tahanan terus bertambah, para narapidana kemudian dipindahkan ke penjara dan barak-barak di pulau terdekat. Pulau Ross lantas disulap sebagai kantor pusat administrasi serta lokasi hunian eksklusif bagi perwira tinggi beserta keluarganya.

Lantaran pulau-pulau terpencil memiliki tingkat kematian yang tinggi akibat penyakit yang dibawa oleh air, maka Pulau Ross dibangun menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Lokasi yang dulunya merupakan rumah para perwira tinggi Inggris. (Foto: doc. Neelima Vallangi)

Maka rumah-rumah mewah lengkap dengan perabotannya, rerumputan nan indah, lapangan tenis, gereja Presbiterian, pabrik pemurnian air, barak militer, serta rumah sakit dibangun di sana.

Pembangkit listrik yang digerakkan tenaga diesel membuat pulau kecil dan terpencil itu menyala, sehingga pulau Ross berkilau layaknya surga di tengah keterbelakangan dari pulau-pulau di sekitarnya.

Pada 1942, kepulauan di Samudra Hindia itu tidak lagi berfungsi sebagai tempat pembuangan tahanan politik setelah adanya kebijakan untuk membebaskan semua tahanan politik pada 1938.

Kemudian pasukan Inggris yang ditempatkan di gugusan pulau itu angkat kaki lantaran tentara militer Jepang tiba. Namun pendudukan Jepang tidak berlangsung lama karena gugusan pulau itu kembali dikuasai Inggris setelah perang berakhir.

Kini hampir seluruh tembok bangunan dilapisi akar pohon yang mengular dan hampir seluruh atap rubuh di semua bangunan. (Foto: doc. Neelima Vallangi)

Tak lama setelah itu, India memperoleh kemerdekaan pada 1947, dan pulau itu dibiarkan apa adanya hingga akhirnya Angkatan Laut India menguasainya pada 1979.

Reruntuhan bangunan di pulau Ross yang tak terawat dapat memberikan sedikit gambaran tentang masa lalu kolonial yang menyedihkan dan brutal. Atap bangunan yang serba runcing, hiruk-pikuk pasar, ubin buatan Italia yang mengkilap, serta jendela kaca warna-warni memang sudah lama hilang.

Namun demikian, kerangka atap bungalow yang dulu dihuni keluarga para pimpinan, klub-klub pertemuan untuk para Bawahan, bangunan gereja Presbiterian, serta dinding-dinding tanpa nama lainnya ditinggalkan, sehingga hancur dan digantikan akar-akar pohon ficus yang mengular.

Bangunan gereja yang sudah hancur dan terlantar di Pulau Ross. (Foto: doc. Neelima Vallangi)

Pada awal 1900-an, para perwira Inggris memperkenalkan berbagai spesies rusa di Kepulauan Andaman sebagai wahan untuk mengisi waktu luang, yaitu berburu rusa.

Namun, tanpa predator alami, rusa tutul kemudian menjadi hama, berkembang biak secara masif dan sangat mempengaruhi perkembangan keaneragaman tumbuhan di pulau itu. Dan belakangan rusa tutul, bersama kelinci liar, dan burung merak, merupakan satu-satunya penduduk Pulau Ross.

Namun pulau itu tetap dinikmati oleh para pengunjung. Kicauan burung kini merupakan satu-satunya sumber hiruk-pikuk di ruangan dari gedung-gedung yang terlantar dan rusak.

Hampir 80 tahun sejak tempat pembuangan tahanan politik itu ditutup sekaligus masa suram kolonialisme di India berakhir, Pulau Ross saat ini menjadi noda yang terlupakan di Samudra Hindia.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut