Merasa Ditipu, Perempuan Rusia Kabur dari Karantina Virus Korona

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 19:16 WIB
Merasa Ditipu, Perempuan Rusia Kabur dari Karantina Virus Korona

Tempat tidur susun di asrama Akademi Pelatihan Kebakaran Negara Bagian Washington yang menjadi lokasi karantina virus korona bagi pelancong dari Provinsi Hubei, China. (FOTO: Jason Redmond / AFP)

SAINT PETERSBURG, iNews.id - Sebuah rumah sakit Rusia mengajukan gugatan terhadap seorang perempuan karena melarikan diri dari karantina virus korona. Perempuan itu mengeluh ditahan secara paksa dan diberi makanan yang tidak bisa dimakan.

Kepala dokter rumah sakit Botkin di Kota Saint Petersburg mengambil tindakan yang sangat tidak biasa, yaitu gugatan, terhadap Alla Ilyina untuk memaksanya kembali menjalani observasi medis.

Sidang atas gugatan dijadwalkan digelar pada Senin depan. Menurut hukum Rusia, meninggalkan karantina dapat dihukum dengan denda.

Perempuan itu tiba dari Hainan, sebuah pulau China yang populer di Rusia, dengan pesawat pada 1 Februari.

Dia diperiksa beberapa kali dan akhirnya didiagnosis penyakit virus akut yang diduga virus korona tipe baru.

Pihak pengawas kesehatan negara mengurung Alla Ilyina pada 6 Februari selama 14 hari, namun perempuan melarikan diri dari rumah sakit setelah dua hari.

"Hal itu dapat menyebabkan penyebaran penyakit menular yang berbahaya di kota," demikian pernyataan pengawas, seperti dilaporkan AFP, Jumat (14/2/2020).

Ilyina memberikan keterangan versinya acara video di akun Instagram-nya.

Akun tersebut lalu dikunci dan beralih ke mode private, namun video sudah diunggah ulang di media sosial dan di situs berita lokal Fontanka.

Dalam satu video, Ilyina mengatakan para dokter memberi tahu dia bahwa tes-tes itu jelas dan berjanji melepaskannya setelah satu hari.

"Mereka berbohong pada saya," katanya.

Dia juga memberikan rincian soal pelariannya dari ruang isolasi.

"Ada kunci elektromagnetik di pintu. Saya mengambil kotak itu dan memotong kabelnya. Pintu dibuka, saya mengepak barang-barang saya, dan pergi ke lift," katanya.

"Saya beruntung," ujar dia.

Saat berada di karantina, dia mengeluhkan kurangnya kebutuhan seperti shampo dan rasa makanan hambar.

"Saya akan kehilangan berat badan di sini, karena ini bukan makanan," katanya, merujuk pada sepiring kentang tumbuk dan kacang polong kalengan.

Dia juga mengeluhkan kurangnya sirkulasi udara.

Fontanka melaporkan, tiga anak muda Rusia lainnya juga melarikan diri dari karantina di rumah sakit yang sama pada 11 Februari.

Pengawas kesehatan nasional tidak menyebutkan hal ini dalam update hariannya terkait langkah-langkah mencegah virus COVID-19.

Rusia memiliki dua kasus infeksi virus korona yang dikonfirmasi, keduanya warga negara China, yang berhasil diobati.

Otoritas penerbangan Rusia menyatakan, mereka akan melarang penerbangan charter ke China mulai hari ini.

Sebagian besar maskapai penerbangan Rusia juga menghentikan penerbangan reguler ke China. Hanya maskapai unggulan Aeroflot yang masih melayani rute ke dan dari Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Hong Kong.

Korban tewas dari wabah virus korona di China mendekati 1.400, dengan enam pekerja medis ada di antara para korban.


Editor : Nathania Riris Michico