Microsoft: Peretas Rusia dan Korut Berlomba Curi Informasi Vaksin Virus Corona AS

Arif Budiwinarto ยท Sabtu, 14 November 2020 - 13:19:00 WIB
Microsoft: Peretas Rusia dan Korut Berlomba Curi Informasi Vaksin Virus Corona AS
Ilustrasi peretes (hacker). (foto: ist)

REDMOND, iNews.id - Perusahaan teknologi Amerika Serikat, Microsoft, melaporkan aktivitas peretasan yang dilakukan kelompok asal Rusia dan Korea Utara. Mereka berulang kali mencoba menyerang perusahaan farmasi yang tengah berlomba mengembangkan vaksin virus corona.

Raksasa teknologi itu mengatakan telah mendeteksi serangan dunia maya dalam beberapa bulan terakhir terhadap tujuh perusahaan besar yang "terlibat langsung" dalam penelitian vaksin dan penanganan virus corona yang mematikan.

Microsoft melacak peretas adalah grup Rusia yang menamakan dirinya Strontium atau dikenal juga dengan nama Baruang Mewah, serta dua kelompok peretas asal Korea Utara bernama 'samaran' Seng dan Cerium.

"Mereka menargetkan perusahaan dan organisasi penelitian di AS, Kanada, India, Korea Selatan, yang sebagian besar memiliki vaksin virus corona dalam "berbagai tahap uji klinis," menurut perusahaan tersebut dikutip dari New York Post, Jumat (13/11/2020).

"Mayoritas serangan ini diblokir oleh perlindungan keamanan yang tertanam dalam produk kami," kata Tom Burt, wakil presiden perusahaan keamanan dan kepercayaan pelanggan Microsoft.

"Kami telah memberi tahu semua organisasi yang menjadi target, dan jika serangan berhasil, kami menawarkan bantuan," ujarnya.

Namun demikian, perusahan bentukan Bill Gates enggan mengungkap berapa banyak serangan dunia maya yang berhasil atau jenis pelanggaran data apa yang telah mereka sebabkan.

Dalam temuannya, Microsoft mengatakan peretas Fancy Bear berusaha membobol akun orang dengan mencoba masuk ribuan atau jutaan kali. Sedangkan peretas asal Korut menggunakan taktik "spear-phishing"--peretas Zinc mengirim pesan berisi deskripsi pekerjaan palsu sementara Cerium menyamar sebagai perwakilan WHO melalui email.

Hacker Rusia pernah berusaha curi data vaksin milik Inggris

Editor : Arif Budiwinarto

Halaman : 1 2