Militer Myanmar Berusaha Lemahkan Pengakuan 2 Tentara soal Pemusnahan Rohingya

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 10 September 2020 - 15:59 WIB
Militer Myanmar Berusaha Lemahkan Pengakuan 2 Tentara soal Pemusnahan Rohingya

Para lelaki etnik Rohingya di kamp pengungsian. (Foto: ANTARA)

YANGON, iNews.id – Militer Myanmar berusaha merongrong pengakuan dua tentara terkait pembantaian orang-orang Rohingya. Sebelumnya, dua tentara itu mengaku diperintahkan untuk memusnahkan Muslim Rohingya sebelum mengambil bagian dalam pembunuhan sejumlah laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari kelompok etnik minoritas tersebut.

LSM Fortify Rights dan media asal AS, New York Times, pada Selasa (8/9/2020) lalu merilis detail dari wawancara terhadap dua tentara Myanmar, yaitu Prajurit Myo Win Tun (33) dan Prajurit Zaw Naing Tun (30). Keduanya menggambarkan, mereka “menyapu bersih” seluruh desa yang didiami penduduk Rohingya. Hasil wawancara terhadap dua prajurit itu telah difilmkan.

Para tentara tersebut mengaku diperintahkan oleh komandan senior untuk menembak semua yang mereka lihat dan dengar selama operasi militer 2017—yang menyebabkan sekitar 750.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Kekejaman yang meluas militer Myanmar itu telah didokumentasikan oleh para penyelidik PBB dan kelompok HAM. Kekerasan itu kini membuat Myanmar menghadapi tuduhan genosida. Akan tetapi, hasil wawancara dengan Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun menjadi laporan yang paling perinci yang diberikan oleh para tersangka pelaku sejauh ini.

Juru Bicara Militer Myanmar, Brigadir Jenderal Zaw Min Tun, Rabu (9/9/2020) malam mengakui kepada BBC Burma bahwa Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun adalah mantan tentara Myanmar. Namun, dia mengklaim, kedua orang itu telah “disandera” oleh kelompok militan Tentara Arakan dan diancam serta dipaksa untuk membuat pengakuan.

Tentara Arakan adalah kelompok pemberontak yang memerangi militer Myanmar di barat laut negara itu dengan tujuan untuk memperoleh lebih banyak otonomi bagi penganut Buddha etnik Rakhine. Kedua belah pihak kerap saling lempar tuduhan soal pelanggaran HAM dalam perang saudara yang berkecamuk di Rakhine, di mana operasi militer terhadap Rohingya terjadi tiga tahun lalu.

Tentara Arakan menolak klaim militer Myanmar itu. Kepada AFP, kelompok milian mengatakan pada Kamis ini bahwa kedua tentara itu telah melarikan diri dari mereka. “Jadi, mereka secara sukarela mengakui tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Myanmar,” kata Juru Bicara Tentara Arakan, Khine Thu Kha.

Dia menyatakan, para pembelot Myanmar lainnya telah memberikan kesaksian serupa. Pengakuan itu pun telah mereka unggah secara daring dalam beberapa bulan terakhir.

AFP tidak dapat memverifikasi video atau pernyataan tersebut secara independen. Akan tetapi, Fortify Rights menyatakan, analisis tentang pengakuan Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun, diterbitkan hanya setelah mereka betul-betul yakin bahwa kedua tentara itu bersaksi tidak di bawah tekanan siapa pun.

LSM itu mengatakan, kedua tentara Myanmar itu muncul di perbatasan Bangladesh-Myanmar dan meminta perlindungan. Sejak itu, mereka dibawa ke Den Haag, Belanda—kota tempat kedudukan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang tengah menyelidiki kekejaman militer Myanmar terhadap Rohingya.

ICC menyatakan, Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun tidak dalam tahanan.

Editor : Ahmad Islamy Jamil