Musnahkan Narkoba Senilai Rp28,6 Triliun, Polisi Thailand: Penjahat Kian Kreatif

Antara ยท Sabtu, 27 Juni 2020 - 17:44 WIB
Musnahkan Narkoba Senilai Rp28,6 Triliun, Polisi Thailand: Penjahat Kian Kreatif

Ilustrasi barang bukti narkotika yang disita polisi. (Foto: ANTARA)

AYUTTHAYA, iNews.idThailand dan Myanmar pada Jumat (26/6/2020) kemarin memusnahkan 25 ton obat-obatan terlarang senilai lebih dari dua miliar dolar AS (setara Rp28,6 triliun). Kedua negara menyatakan, gelombang narkoba kian berkembang karena geng-geng kriminal menggenjot pasokan dan menemukan celah baru untuk menjalankan bisnis.

Segitiga Emas Asia Tenggara—yang mempertemukan Myanmar, Laos, dan Thailand—telah lama menjadi pusat perdagangan narkoba. Produksinya pun kini sudah dalam skala industri.

Di Ayutthaya, sebuah daerah di utara Kota Bangkok, otoritas Thailand memperingati International Day Against Drug Abuse and Illicit Trafficking dengan pemusnahan narkoba secara massal Komando polisi menjaga tumpukan kardus-kardus narkoba yang diturunkan dari truk, juga tas berisi pil methamphetamine merah muda, yang dimasukkan ke dalam bak sampah untuk dibakar.

Kepala pemberantasan narkoba Thailand mengatakan, pembatasan perjalanan Covid-19 dan pos pemeriksaan membantu mengurangi kegiatan penyelundupan, meski United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menyebutkan perdagangannya tetap berkembang. Sementara, Wakil Kepala Kepolisian Nasional Thailand, Letjen Wisanu Prasarthong-osoth mengatakan, pelaku kejahatan narkoba kini semakin kreatif.

“Anak-anak kita membuat keputusan sesat dengan memesan narkoba secara daring. Dan para penjual mengirim kepada mereka,” katanya dikutip Reuters.

Meski penanaman opium dan heroin menurun, produksi metamfetamina di wilayah utara Myanmar kini meningkat. Kelompok etnik bersenjata di kawasan itu dikatakan terlibat bisnis dengan elemen-elemen kriminal terorganisasi lainnya. Thailand pun dimanfaatkan sebagai kanal dan titik pendistribusian barang haram itu.

Wakil UNODC untuk Asia Tenggara, Jeremy Douglas mengatakan, perdagangan narkoba secara daring menjadi tren yang mengkhawatirkan dan pasokan metamfetamina yang berlebihan membuat harganya jatuh. “Kita kini melihat peningkatan ketersediaan narkoba. Begitu berbahaya,” ucap Douglas.

Editor : Ahmad Islamy Jamil